Wewe Gombel

M.S. Nugroho

https://i1.wp.com/www.indosiar.com/images/v09/sinopsis/wewe200.jpg

Karakter         : Wewegombel, Gondoruwo, BELA, MAMA, ORANG-ORANG,

ANAK-ANAK

 

 

 

 

01.  Senja hari, di atas pohon besar, mengerikan

Wewegombel, Gondoruwo

 

Dalam bayangan hitam, WEWEGombel menangis sedih.

 

GOMBEL        : Ruwo… malam datang lagi. Malam datang lagi.

RUWO                        : Malam akan selalu datang, Gombel…

GOMBEL        : Malam akan selalu menyiksaku, Ruwo. Malam akan membuatku kesepian.

RUWO                        : Tidak, Gombel. Aku akan menemanimu. Aku akan selalu di dekatmu.

GOMBEL        : Ya, dan tanpa anak.

RUWO                        : Maafkan aku, Gombel. Aku tidak bisa memberi yang kau inginkan.

GOMBEL        : Ratusan tahun aku menunggu. Sampai kapan lagi aku sanggup menunggu

seorang anak menghiburku.

RUWO                        : Inilah nasib kita, Gombel. Ratusan tahun usia kita. Kita tidak perlu anak

untuk melanjutkan hidup kita. Kitalah yang mendampingi sang waktu.

Malam bukanlah kesedihan kalau kita bersabar.

GOMBEL        : Aku tidak bisa bersabar lagi, Ruwo. Setelah ratusan tahun kata sabar jadi

tidak bermakna. Ayolah, kita akan dapatkan anak  yang manis.

WEWE GOMBEL terus merajuk. Kemudian percakapan terhenti karena sayup terdengar anak belajar bernyanyi.

02.  Malam hari, di dalam rumah terang dan bersih, pinggiran kota.

BELA, MAMA

 

BELA sedang belajar di kamar atas; di ruang tamu MAMA lelah sepulang kerja.

 

BELA              : (Menyanyi)    Kasih ibu kepada beta

tak terhingga sepanjang masa

hanya memberi tak harap kembali

bagai sang surya menyinari dunia.

 

MAMA                        : Bela, berisik. Mana air untuk Mama?

BELA              : Iya, Ma. Sebentar.

 

Mama berolah raga sekedarnya dan menyalakan lampu teras. Bela turun membawakan air hangat. Mama menyentuh air langsung marah.

MAMA                        : Terlalu panas, Goblok. Kau mau merebus Mama! Kurang ajar!

MAMA memukuli BELA dengan handuk. BELA cepat-cepat mengambil air sambil menangis.

BELA              : Maaf, Ma. Bela tambahkan air dingin dulu.

MAMA mengumpat seraya menyalakan televisi dan memencet-mencet remot. Bela mengurut kaki Mama sambil terus menangis.

MAMA                        : (Mentertawakan acara televisi) Bela, sudah. Diam. Tidak kau lihat

Mama sedang menonton sinetron*).

https://i2.wp.com/i416.photobucket.com/albums/pp246/marciolimas/Download.gif

Komentar
  1. shinta mengatakan:

    critanya cm gini yahhhhhhhhh????
    kagak ngrti gue

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s