RAHWANA

Karya: Abdul Mukhid

 

https://i0.wp.com/www.translatorscafe.com/cafe/images/Translators/1503.JPGREPORTOAR PEMBUKA

(Adegan penculikan Shinta oleh Rahwana di hutan. Improvisasi)

 

BABAK SATU

ADEGAN 1

(Kerajaan Alengka waktu senja. Di bagian taman sari. Taman Asyoka yang sudah masyhur namanya. Terlihat para dayang melayani Shinta. Rahwana sedang bercengkerama dengan Sinta. Rahwana tidak digambarkan sebagai tokoh raksasa yang jelek, tapi sebagai seorang yang gagah dan wajah lumayan tampan. Taman sari itu adalah sebuah taman sari yang sangat indah. Tokoh dayang-dayang boleh ada boleh tidak)

RAHWANA: (Kepada dayang-dayang) Kalian boleh pergi.

(Para dayang memberi hormat, lalu pergi. Tinggal Rahwana dan Shinta berdua)

RAHWANA: Kau tahu kenapa aku membawamu kemari?

SHINTA: (Pura-pura tidak tahu) Tidak.

RAHWANA: Bahkan aku bisa melihat kepura-puraan di matamu. (Shinta diam saja. Sedikit salah tingkah) Apakah kau sudah melupakan gemuruh perasaan yang ada di dada kita?

SHINTA: Tentu saja tidak, Kanda Rahwana. Tapi, saling mencintai bukan harus memiliki, kan? Aku kira itu adalah hukum alam yang tidak terbantahkan lagi. Bukankah kau sendiri pernah berkata begitu?

RAHWANA: Lantas kenapa aku tidak boleh memilikimu?

SHINTA: Ini sudah takdir Sang Mahatunggal, Kakang.

RAHWANA: (Dengan agak kesal) Oh ya? Apakah juga takdirNya bahwa engkau harus menikah dengan Rama?

SHINTA: (Terdiam sejenak. Mencoba mengatasi perasaannya sendiri. Lalu dengan berat berkata) Tampaknya memang begitu, Kakang.

Hening sesaat

SHINTA: Dengarlah, Kakang. Aku yakin, Kakang sudah tahu perasaanku tanpa harus aku katakan. Tapi sekali lagi Kakang, ini memang sudah takdir. Ini perintah dari guru sejatiku. Bukankah Kakang juga punya cita-cita untuk bertemu dengan Sang Sejati? Inilah jalannya, Kakang. Kita harus menyingkirkan segala perasaan cinta duniawi yang berlebihan. Aku adalah bagian dari dunia ini, dan Kakang diberi ujian untuk tidak mengikatkan diri padaku. Begitu pula dengan aku.

RAHWANA: Tapi aku ingin memandang wajahNya lewat wajahmu. Aku ingin mencintai diriNya yang ada dalam dirimu sekaligus yang meliputimu.(Gusar) Tidak. Tidak. Pasti ini semua karena Rama. Kenapa? Apa kau terpikat dengan ketampanannya? Rayuannya? Kekayaannya? Dengar Sinta, aku memang tak punya apa-apa. Tapi lihat betapa makmur negeri ini. Memang istana ini bukan punyaku. Rumahku hanyalah sekedar untuk tempat berbakti pada kepada Sang Mahasuci. Baik. Apa kau menginginkan kekayaan dan kemewahan? Ketampanan dan kata-kata manis? Kau bisa mendapatkan apa pun yang kau inginkan, Adinda. (Pause) Asal bukan Rama.

SHINTA: (Mulai mencucurkan airmata) Tidak, Kakang. Kenapa Kakang tidak percaya juga bahwa ini adalah takdir yang harus kita jalani.

RAHWANA: (emosional) Takdir, Shinta? Dengar, aku akan mengejar para dewata ke langit kalau itu memang takdir. Tidak, Shinta. Aku tidak bisa terima ini. Kalau memang ini adalah takdir seperti yang kau katakan, aku akan mengubahnya!

SHINTA terduduk dan menangis sejadi-jadinya.

https://i2.wp.com/i416.photobucket.com/albums/pp246/marciolimas/Download.gif

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s