M.S. Nugroho

MALIN

The End Scene

 

https://i1.wp.com/www.bkdjombang.com/foto/pegawai/197004241999031006.jpgDi lautan. Ombak berdeburan dan langit berkilatan. Kapal membatu  dan angin gemetaran.

Sekelompok orang bernyanyi layaknya nelayan.

Penyanyi    : Cerita membuka luka di balik luka

Pedas dan pedih tiada terasa

Air mata hanyalah hiasan

Hati dan pikiran jadi redam

 

Jika amarah jadi udara

Mulut menyembur tiada terarah

Tangan menusuk sampai berdarah

Setan dan nafsu menjadi kendara

01

 

Badai menggeram, suara MALIN tertawa lantang.

 

MALIN           : Tidak. Aku tidak punya bunda seperti kau!

BUNDA          : Malin, dosa apa setan apa. Kau tak kenal bunda sebanyak bumi. Nyawamu

tumbuh dari hembus nafasku. Wajahmu terpahat dari belai kasihku. Darahmu

mengalirkan air susuku. Sudahlah. Jika kau bukan anakku, kembalilah ke

kapalmu. Jika engkau benar anakku,  kembalikan air susuku. Kembalikan.

Jika kau tak mampu, jadilah saja kau batu! Batulah engkau, batulah engkau!

MALIN           : Bunda, benarkah engkau itu Bunda?

Dalang        : Duh, Bunda si Malin Kundang

Telinga terbakar, hati berdarah

Mulut mengutuk anak tersayang

Langit keramat tersentak dan jadilah…

PENYANYI    : Halilintar mencambuk lautan, maka kutukan jadilah perwujudan.

BUNDA tertawa kesurupan

02

 

DALANG        :  Tapi sekejap kemudian sadarlah BUNDA.

MALIN telah lenyap dari pandangan.

Tinggal sebongkah batu kesepian.

Air mata jadi rinai hujan.

PENYANYI    :  Tiga belas burung camar berputaran

Dengan paruh teriakan bersahutan

Kini udara menjadi mantra kutukan

Terpendam dari senja kesedihan

BUNDA          :  Malin! Malin! Malin! Di manakah engkau, Anakku? Malin, apakah engkau

mendengarku? Malin, jawablah. Sembunyi di mana, diam di mana,  Anakku?

Jawablah. Aku yakin, kau mendengarku. Tidak bisa tidak, kau pasti

mendengar aku. Dengarlah. Peluklah Bunda kau sekarang. Katakan  kau

merindukan aku. Ayo lakukan. Kalau tidak, buat apa aku hidup. Aku

menjaga nafasku untuk mencium kening kau. Kalau Bunda tak kau jawab,

sia-sialah kuhirup nafasku sendiri. Dan baju sang maut akan lebih layak

kukenakan. Upacara kematian di depan mata anaknya sendiri yang tak tahu

diri. Kau lihat, Malin. Tongkat ini masih cukup tajam untuk menusuk

jantung renta ini. Kau kuhitung sampai sembilan untuk datang kepadaku.

Karena kau telah datang ke pangkuan bunda melalui sembilan bulan eraman

rahimku. Bersiaplah, aku mulai menghitung dari angka paling akhir.

Sembilan….  Malin, baiknya, maafkan Bunda. Bunda tak sengaja, Sayang.

Ini tak sengaja. Ini seperti teriakan sakit ketika gigi susumu menggigit

putingku. Aku sakit  kepada diriku sendiri, bukan kepada kau. Delapan…

Mana mungkin seorang ibu menyakiti anaknya. Untuk apa perjuangan

melahirkan kau kuhapus sendiri dengan mengusir kau. Untuk apa Bunda

mempertaruhkan nyawa kalau untuk membenci kau. Untuk apa Bunda

membanting tulang untuk kau. Tujuh…. Kalau pada akhirnya harus mengutuk

anaknya. Untuk apa? Malin, itu  bukan Bunda. Sekarang, inilah Bunda,

Malin. Bunda yang rela kakinya berdarah-darah, naik-turun gunung, jutaan

hasta: untuk menatap wajahmu.  Enam…. Inilah Bunda, Malin. Bunda

yang sabar sendirian menunggu ratusan malam di tengah udara jahat

dan tamparan hujan: untuk menyambut kedatangan kapal kau. Lima….

Inilah Bunda, Malin. Bunda yang rela mencium kaki kau dan bahkan

berubah menjadi batu  supaya kau  tersenyum. Empat…. Bunda bersungguh-

sungguh untuk membunuh diri jika kau tak menjawab, Malin. Tiga….

Apakah kau benar-benar telah menjadi batu? Telinga kau menjadi batu

dan hati kau juga menjadi batu?  Dua…. Sampai hitungan kesekian kau tidak

juga menjawabku, Malin? Apakah Bunda terlalu hina untuk kau? Satu…. Ini

sudah masuk hitungan terakhir. Kau di mana? Kau memang batu. Aku

mengajari kau menjadi lautan, kau malah menjadi batu.  Aku akan…. Ini

detik terakhir…. Nol….Nol…. Nol…. Malin, kau sangat tega, ya? Ini kau

sudah putuskan. Baiklah, mungkin ini yang terbaik. Bunda memang bersalah.

Bunda memang telah mengutuk kau. (Mengoyak-ngoyak  bajunya   sendiri)

Badan ini memang tak layak sebagai seorang bunda. Jantung ini memang

baiknya diam selamanya untuk minta ampun pada kau. Bunda memang

pantas mati untuk menebus kesalahan Bunda. Darah ini akan menjadi saksi.

Nyawa ini untuk kau, Malin!

Bunda menusuk jantungnya sendiri.

https://i2.wp.com/i416.photobucket.com/albums/pp246/marciolimas/Download.gif

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s