HM1L [baca:hamil]

Karya : Puthut Buchori

 

https://i2.wp.com/upload.wikimedia.org/wikipedia/id/f/f1/Puthut.jpgPERTUNJUKAN DIMULAI DENGAN LAGU DAN GERAK RAMPAK YANG MENGGAMBARKAN TENTANG SEMANGAT KAUM MUDA DALAM MENGHADAPI DUNIA.

SYAIR 1 : MANUSIA MUDA

Orang-orang Muda

Tersisihkan keangkuhan generasi

Dikalahkan kesombongan basi

Korban orde pembodohan

 

Kami tak lagi bisa bungkam

Tak lagi kami hanya diam

Mesti terkotak sistem aturan

Namun kami tetap punya otak

 

Bergerak derak harus teriak

Energi kami masih perkasa

Menerjang menerpa meski menendang

Karena kami tak pernah lelah

 

Dengan gaya kami

Inilah diri kami

Aneka ragam keinginan terpendam

Rupa-rupa warna hasrat

Suka-suka segala dicoba

Hura-hura sisi dunia ceria

Muda-muda gaya

Hidup untuk dinikmati

Jadikanlah segalanya ceria

Uh…. Mempesona

 

BAGIAN 1

SEKELOMPOK ANAK MUDA KAUM PINGGIRAN YANG BERGAYA ‘PUNK[1]’ BERLARIAN MENGEJAR SESEORANG YANG MEREKA ANGGAP SEBAGAI MANGSA. DISUSUL KEMUDIAN SEKELOMPOK ANAK MUDA YANG BERPAKAIAN MODIS (MODE MASA KINI) YANG JUGA SEDANG MENGEJAR SESEORANG  YANG JUGA MEREKA ANGGAP SEBAGAI MANGSA.

BAGIAN 2

SEORANG PEREMPUAN BELIA DUDUK DIAM SEDANG DIADILI KEDUA ORANG TUANYA. DIA HANYA MENANGIS TAK BERDAYA, SEMENTARA AYAHNYA MARAH KARENA KELAKUAN ANAK SEMATA WAYANGNYA TIDAK SESUAI HARAPAN.

 

001. AYAH                 :  Apa, hamil ?

002. SISI                     :  Ya, maafkan Sisi ayah ?

BAGAI PETIR MENYAMBAR DISIANG BOLONG, AYAH MARAH SEJADI-JADINYA.

003. AYAH                 :  Oh my God !!, dosa apalagi yang diperbuat anak ini, kutukan apalagi yang menimpa keluarga ini.

004. SISI                     : Maaf….

005. AYAH                 :  Diam!! Ayah kurang memberi apa padamu, uang jajan,  pendidikan, kebutuhanmu sehari-hari. Kurang apa coba, segala permintaanmu aku kabulkan semua.

006. SISI                     : Ayah…

007. AYAH                 : Jangan bicara dulu! Apa kamu tidak kasihan pada ayahmu ini, pontang-panting bekerja untuk memenuhi kebutuhan kalian, memberi makan kalian….

008. SISI                     : Ayah…

009. AYAH                 : Diam kataku!

010. IBU                      : Ayah, berilah waktu untuk dia berpendapat.

011. AYAH                 : Kamu juga bu, orang tua yang tak bisa mendidik anak. Kamu lebih banyak di rumah, lebih banyak bersama anak semata wayang ini, kok ya bisa-bisanya sampai kecolongan “meteng[2]” !

012. IBU                      : Ha, elho[3] ! kok jadi ayah juga menyalahkan aku ?

013.AYAH                  : Kamu ibunya, tugasmulah mendidik anak !

014. IBU                      : Siapa bilang ? Ayah juga punya kewajiban mendidik dia.

015. AYAH                 : Aku sibuk bekerja !

016. IBU                      : Aku juga sibuk…

017. AYAH                 : Sibuk apa ? Arisan, piknik, sibuk ubyang-ubyung[4] dengan kelompok arisanmu itu ?

018. IBU                      : Alaah[5], ayah hanya bisa menyalahkan, menghindar dari tanggung jawab moral…

 

DI TENGAH PERTENGKARAN ITU, SISI BERTERIAK HISTERIS, SUASANA JADI SEPI, BAPAK DAN IBU KELUAR DARI PANGGUNG. HANYA ADA SISI SENDIRI. MELAMUN, MENERAWANG JAUH, KOSONG.


[1] Sebuah gaya kaum pinggiran dengan baju dan celana ketat, rambut kaku berdiri seperti suku Mohawk di Indian dan banyak asesoris dari metal di seluruh tubuhnya.

[2] Meteng (Jawa), berarti Hamil.

[3] Ungkapan bernada bertanya karena disepelekan.

[4] Ubyang-ubyung (Jawa), berarti berjalan kesana-kemari mengikuti arus kawan-kawanya.

[5] Ungkapan menyepelekan pembicaraan.

 

https://i2.wp.com/i416.photobucket.com/albums/pp246/marciolimas/Download.gif

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s