Monolog

EMANSIPASI

Karya : M. J. Widjaya

https://i2.wp.com/images.refadillah.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/R8r7-QoKCr8AABuxP8Q1/1-6.JPG

KARTINI

Tinta sejarah belum lagi kering menulis namanya, namun wanita wanita negeri ini sudah

terbata bata membaca cita citaku.

Aku dikungkung adat dan barat menuntunku, tapi aku selalu memcoba meratas jalan

menuju kemerdekaan dan ternyata tak seorang pun melanjutkan perjuanganku.

Sesungguhnya adat sopan santun amatlah rumit, adikku harus merangkak bila hendak

berlalu dihadapanku, kalau adiku duduk dikursi lalu aku berlalu maka haruslah segera

turun dari kursi duduk ditanah bahkan dengan menundukan kepala sampai aku tidak

terlihat. Adikku tidak boleh berkamu atau berengkau kepadaku dan setiap akhir kalimat

harus dibarengi dengan sembah.

Peduli apa dengan segala tata cara itu, segala peraturan itu bikinan manusia dan

menyiksaku. Manusia harus merdeka, semua sama dan kita semua saudara. Manusia itu

sederajat dan berhak mendapatkan perlakuan yang sama, tidak seperti sekarang, para

kaum ningrat pasti bahagia tapi kaum marginal akan hidup diselokan selokan penderitaan

dan kematian siap menanti.

Keningratan darah untuk masa kini sudah menjadi barang antik di museum. Kini muncul

keningratan keningratan baru, keningratan title, keningratan pangkat, keningratan jabatan

dan pucak dari semua keningratan itu adalah keningratan ekonomi. Siapa yang paling

banyak uang berarti dia yang dapat mengatur keadilan dan keputusan pengadilan.

Sungguh aneh, mereka yang mengaku “ Kartini Kartini Masa Kini “ tidak menentang

keningratan keningratan baru, bahkan sebagian besar mereka menjadi pemujanya atau

penjilat. Aku hanya percaya akan dua keningratan, pertama keningratan fikiran dan yang

kedua keningaratan budi, apa gunanya bergelar graaf atau baron.

Wanita wanita kini mengurai kembali benang yang telah kupintal, mereka hanya

merayakan hari kelahiranku tapi itu semua hanya mengecilkan arti perjuangaku selama

ini. Wanita wanita kini telah maju kebelakang, kita belajar sejarah, bahwa manusia itu

unik, keunikan manusia itu : dia belajar sejarah tapi tidak pernah belajar dari sejarah.

Aku tidak boleh bergaul dengan kaum dibawah keningaratan aku, tapi sekarang semua

bebas dan hanya ada dua perbedaaan, yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin

miskin.semua temanku adalah musuhku, mr. Abendanon dan istrinya seorang utusan dari

pemerintah belanda untuk melaksanakan politik etis, dia meminta bantuan dan nasihat

dari snouck Hurgronye yang memiliki konsep politik asosiasi yang bertujuan agar

generasi Indonesia tercabut dari akarnya terutama Islam. Snouck Hugronye menyarakan

agar abendanon mendekati aku, maka aku berkawan dengan keluarganya. Musuhku tidak

seperti jaman sekarang, musuhku adalah temanku, temanku adalah musuhku. Mulai dari

stella, anie glasser, dr andriani, Vam kol. Mereka semua hanya memanfaatkanku semata.

Laksanakan cita cita, bekerjalah untuk masa depan, bekerjalah untuk kebahagian beribu

ribu orang yang tertindas dibawah hukum yang tidak adil dan paham paham palsu.

Berjuanglah dan menderitalah, tetapi untuk kepentingan abadi.

https://i2.wp.com/i416.photobucket.com/albums/pp246/marciolimas/Download.gif

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s