monolog

AKSIOMA

Karya Taufan S. Chandranegara

 

https://sastradrama.files.wordpress.com/2010/10/ashes.jpg?w=300

 

Dramawan      1. Aktor (Lelaki/Perempuan)

 

Pendukung      1. Kameraman dan Perangkatnya

2. Sutradara

 

Catatan Visual : Dalam naskah ini, diperlukan perangkat multimedia. Naskah ini dibuat dalam bentuk  stage film/life video on stage. Diperlukan imajinasi tanpa batas, kontekstual dalam term of moralism.

 

Tahun              : Maret 2004

 

 

 

SCENE 01:

(Track In- Shot Number:01)

 

Sebuah bibir. Senyum. Beragam rupa dalam hati Sang. Entah siapa dia. Entah. Persoalannya bukan tersirat atau tersurat. Saudara paham maksud saya? Tidak?! Pasti tidak. Anda pasti menduga tentang sebuah hati yang terluka atau cemburu, membara, pedih, gembira, suka, duka, nestapa, lara, ceria, nostalgia, birthday, valentine, atau berhubungan dengan hal-hal yang bersifat positif-negatif. Hahaha…. Sangat konservatif, kalau hanya itu. Kuno, bodoh, tidak cerdas. Atau, saudara menduga hubungan: Bibir dan hati. Umumnya terkait dengan inner-mind Anda, orang, massa. Tidak!? Atau, saudara menduga: sebuah bibir, senyum. Berhubungan dengan tren iklan, hahahaha… hamper, mirip, tapi bukan itu, saudara. Lalu apa? Saya juga ingin tahu. Kenapa? Karena saya juga sedang menduga. Diagnosis apa yang kira-kira tepat untuk itu.

Kalimat diagnosis tidak Cuma digunakan dalam kalangan medis saja, kan? Khususnya disiplin kedokteran. Kalau dokter sekolah bertahun-tahun, kemudian hanya pandai mendiagnosis. Karena itulah maksimalisasi dari keilmuannya. Tetapi, tetapi, tetapi, jika kita kembali hubungkan dengan: Sebuah bibir, senyum. Perlukah kita memakai alibi”diagnosis”?

Apa jawab Anda yang duduk di belakang sudut sana. Saudara, siapa pun Anda, punyakah jawabannya? Akh, betul sekali. Apapun jawaban pada hari ini harus dikategorikan jawaban tentang “Benar”. Kenapa? Karena kita harus kembali kepada “Diagnosis”. Kenapa begitu? karena diagnosis kita hidup. Karena diagnosis hiduplah: Trust, Image, Brand, Product, Knowledge, Awareness. Kemudian puncak dari itu semua menjadi the people tobe awareness. Kemudian bangkitlah the people to be community and they get the goal. Gol, Saudara, saudara, gol. Saya. Anda. Kita. Kami. Hidup dalam komunitas massa yang ujung-ujungnya get the goal. Yes. Gol. Gol. Gol saudara bukan gol saya. Gol saya bukan gol Anda. Gol kita akibat individu dalam komunitas dan gol kami akibat bentukan komunitas dari individu-individu.

https://i2.wp.com/i416.photobucket.com/albums/pp246/marciolimas/Download.gif

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s