MONOLOG

WANITA versus INDONESIA Ibarat SRIKANDI versus DASAMUKA

By Herlina “LINA LEENOX’S” Syarifudin

http://dupahang.files.wordpress.com/2008/10/muslimat-air-mata1.jpg

CAHAYA PERLAHAN MENYOROT SESOSOK PEREMPUAN YANG SEDANG MENARI DENGAN POSISI TUBUH MEMBELAKANGI PENONTON. TARIAN DILAKUKAN DI DALAM AREA CAHAYA BERUKURAN KURANG LEBIH 1 X 1 M. GARIS BATAS CAHAYA MEMBENTUK SALAH SATU KEPULAUAN DI INDONESIA. GARIS BATAS CAHAYA BERUBAH SETIAP DETIK / MENIT YANG DIINGINKAN, MEMBENTUK KEPULAUAN YANG LAIN DI INDONESIA. SUSUNAN PERUBAHAN BENTUK KEPULAUAN BISA DIURUT SARI SABANG SAMPAI MERAUKE ATAU DARI MERAUKE SAMPAI SABANG. USAI MENARI, SOSOK PEREMPUAN ITU PERLAHAN MENGHADAP KE ARAH PENONTON SAMBIL MENYANYIKAN LAGU ‘IBU KITA KARTINI’ DENGAN IRAMA KERONCONG / SERIOSA

Ibu kita Kartini, putri sejati……

Putri Indonesia, harum namanya…….

Mendengar kata sintal, lentik, cantik, indah, sensual, gemulai, lembut, ….. pasti yang terbayang di benak adalah…Hap!

BERPANTOMIM MEMBANGUN TUBUH MEMBENTUK SOSOK PEREMPUAN

Ya ! P-E-R-E-M-P-U-A-N atau W-A-N-I-T-A. Tapi itu cuma fisik. Seperti halnya fisik kepulauan Indonesia yang kalau kita lihat di dalam globe, tampak beragam dan lebih ‘nyeni’ bentuknya. Namun dibalik dari segala keindahan itu, tersimpan godaan. Godaan yang bisa, agh…merangsang, menggugah, lalu menodai, bahkan menghancurkan. Stoopp!! Eits, eits, putar otak anda kembali normal. Hancurkan fantasi itu untuk sementara waktu. Bukan sekarang dan bukan disini tempatnya. Karena ini ruang suci. Ruang beradab. Ruang bermoral. Ruang wacana. Ruang inspirasi. Jangan kau nodai dengan hal-hal yang tidak pada tempatnya. Hal yang berkedok. Hal yang munafik. Hal yang picisan. Cukup imajinasi dalam otak. Tanpa perlu visual yang verbal. Ok, ok. Aku tahu. Itu wajar, manusiawi, natural dan hak semua makhluk Tuhan jika memang sudah tiba waktunya. Tapi, yach, lagi-lagi itu cuma wacana. Wacana yang tidak lagi peduli pada ruang dan waktu. Semua menjadi sah. Norma tak lagi bisa bicara sekeras batu karang. Ada yang bilang, ‘Peraturan dibuat memang untuk dilanggar. Karena distulah letak keseimbangan terjadi.’ Gila ! Memang. Tapi apa boleh buat. Itulah yang berlaku, mungkin sejak jaman nenek moyang. Entoh, kita tetap bisa menerima dan malah tak jarang ikut menikmati sisi pelanggaran itu. Benar tidak? Hayo…koq pada senyum-senyum? Senyum kebenaran atau senyum kemaluan nih? Itulah Indonesia dan perempuan. Dua sosok yang berbeda namun punya banyak juga persamaan. Dua sosok yang indah dan menakjubkan. Ada indah, pasti ada buruk. Ada takjub, pasti ada jijik. Taruh kata pelecehan. Bisa saja muncul di balik keindahan yang menakjubkan dari kedua sosok ini. Pelecehan sangat mudah merajalela hanya karena faktor fisik. Jika Indonesia dilecehkan, dia akan semakin garang, bak Dasamuka. Seperti Semar kehilangan kuncung. Tapi Indonesia sebenarnya belum punya sosok Semar. Padahal sosok itu adalah dewa penolong yang sangat dibutuhkan oleh Indonesia. Indonesia saat ini bagiku masih seperti alas Setra Gandamayit. Belum sampai pada tahap Amarta. Tapi itu hanya pendapatku lho, jangan terpengaruh. Ini hanya pendapat sebagian kecil wong cilik. Apalah arti pendapat wong cilik sih? Terlalu tinggi dan rapat gedungmu untuk bisa mendengar. Wong cilik juga tidak punya aji sakti yang bisa menerobos bahkan menembus bentengmu. Kecuali aku adalah koki atau tukang kebun atau satpam disitu, lain cerita. Jadi sekali lagi, kalau memang tidak layak didengar, tutup telinga saja. Habis perkara. Daripada telinga panas dan urusan jadi melebar, runyam nanti.

https://i2.wp.com/i416.photobucket.com/albums/pp246/marciolimas/Download.gif

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s