Sang Orator

Monolog

Bayan Sentanu

https://i1.wp.com/www.galerikeadilan.net/data/thumbnails/2/091806_anis_matta.jpg

(level tingkat dua di tengah panggung, muncul pemain berpakaian tidur (piyama). Usianya 30 tahun, ia menyeret sebuah megaphone menyala (sirine). Pemain mengelilingi level setengah lingkaran untuk kemudian naik ke atasnya dan mulai berorasi.)

SAUDARA-SAUDARI, SENASIB SEPENANGGUNGAN. ADALAH HAK MANUSIA, HAK RAKYAT BANGSA INI MENDAPATKAN KESEJAHTERAAN HIDUP! JUGA KITA, KAUM BURUH! BERTAHUN-TAHUN KITA MEMERAS

KERINGAT, MELAKUKAN KEWAJIBAN KITA SEBAGAI PEKERJA DI PABRIK INI! TAPI APA YANG KITA DAPAT?!! UPAH YANG TAK LAYAK! EKSPLOITASI

TEBAGA DAN JAM KERJA! TAK ADA JAMINAN KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA! BANYAK TEMAN KERJA KITA YANG DILECEHKAN SECARA SEKSUAL! PEMECATAN SEPIHAK!

TERLALU LAMA KITA DIAM! TERLALU LAMA KITA DIHANTUI RASA TAKUT! KITA HARUS BERGERAK! MELAWAN PENINDASAN ITU SEMUA! DENGAN TANGAN KITA SENDIRI! SEKARANG, HANYA SATU KATA; LAWAN!* HIDUP BURUH! HIDUP BURUH!….

Ha…ha…ha…. begitu semangatnya aku waktu itu. Aku seperti singa yang mengaum diantara ribuan penghuni hutan. Semua mata tertuju padaku, mereka diam. Entah karena isi orasiku atau karena kalimat-kalimat itu keluar dari mulut perempuan yang selama ini terkesan pendiam. Aku tak peduli! Y

ang pasti, waktu itu aku hanya menyuarakan apa yang kurasakan selama di pabrik itu.

Merekapun bertepuk tangan sesudah orasiku itu. Lima menit, ya lima menit. Seperti penghargaan penonton atas sebuah pertunjukan teater yang m

emuaskan. Yel-yel yang aku berikan, mereka sambut membuat gema yang riuhnya mengalahkan deru mobil di jalan raya.

Aku, Sunarti. Sang orator.

(lampu redup-mati, erdengar alunan musik yang menghentak. Di belakang lampu menyala dan pemain sudah ada disana.)

Bagi rekan kerjaku sesama operator, aku mungkin dianggap pahlawan karena telah mewakili mereka yang tak berani bicara, mewakili mereka yang hanya bisa keluh kesah di belakang. Yang bisanya hanya corat-coret di dinding toilet dengan spidol atau lipstick, berisi umpatan-umpatan pada atasan.

–          Wahai manajer tampan; pergilah ke neraka!-

–          Kepada supervisor cabul; jadi dukun aja lu!-

Begitulah jadinya kalau hidup ditekan tapi tak dilampiaskan secara benar.

https://i2.wp.com/i416.photobucket.com/albums/pp246/marciolimas/Download.gif

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s