Posts Tagged ‘Matahari di Sebuah Jalan Kecil’

MATAHARI DI SEBUAH JALAN KECIL

(Karya Arifin C. Noor)

 

http://img.kapanlagi.com/i/newkl/free/arifin_c_noer_01.jpgSebentar lagi berkas-berkas di langit akan buyar dan matahari akan memulai memancarkan sinarnya yang putih, terang dan panas. Jalan itupun akan mulai hidup, bernafas dan debu-debu akan segera berterbangan mengotori udara.

Jalan itu bukan jalan kelas satu. Jalan itu jalan kecil yang hanya dilalui kendaraan-kendaraan dalam jumlah kecil. Tetapi sebuah pabrik es yang tidak kecil berdiri di pinggirnya dan pabrik itu memiliki gedung yang sangat tua. Di depan gedung itulah para pekerja pabrik mengerumuni SIMBOK yang berjualan pecel di halaman.

Seorang laki-laki yang sejak malam terbaring, tidur di ambang pintu yang terpalang tak dipakai itu, bangun dan menguap setelah seorang yang bertubuh pendek membangunkannya. Laki-laki itu adalah PENJAGA MALAM.

 

  1. PENJAGA MALAM   : Uuuuuh, gara-gara pencuri, aku jadi kesiangan.
  2. SI PENDEK                : Tadi malam ada pencuri?
  3. PENJAGA MALAM   : Di sana, di ujung jalan itu! (menunjuk)
  4. SI PENDEK                : Tertangkap?
  5. PENJAGA MALAM   : Dia licik seperti belut. (menggeliat lalu pergi)
  6. SI PENDEK                : (duduk lalu membaca koran)

 

Seorang pemuda (anak laki-laki) membawa baki di atas kepalanya lewat. Ia menjajakan kue donat dan onde-onde. Suaranya nyaring sekali. Tak ada orang mengacuhkannya. Begitu ia lenyap seorang pemuda lewat pula yang berjalan dengan perlahan, berbaju lurik kumal, sepatu kain yang sudah rusak dan buruk, wajahnya pucat. Sebentar ia memperhatikan orang-orang yang tengah makan lalu ia pergi dan iapun tak diperhatikan orang.

Gemuruh mesin yang tak pernah berhenti itu, yang abadi itu, makin lama makin mengendur daya bunyinya sebab lalu lintas di jalan itu mulai bergerak dan orang-orang semakin banyak di halaman pabrik itu. SIMBOKpun makin sibuk melayani mereka. Lihatlah!

 

  1. SI TUA                        : (menerima pecel) Sedikit sekali.
  2. SIMBOK                     : (tak menghiraukan dan terus melayani yang lain)
  3. SI PECI                       : Ya, sedikit sekali (menyuapi mulutnya)

10.  SI TUA                        : Tempe lima rupiah sekarang.

11.  SI KACAMATA         : Beras mahal (membuang cekodongnya) kemarin istriku mengeluh.

12.  SI PECI                       : Semua perempuan ya ngeluh.

13.  SI KURUS                  : Semua orang pengeluh.

14.  SI KACAMATA         : Kemarin sore istriku berbelanja ke warung nyonya pungut. Pulang-pulang ia menghempaskan nafasnya yang kesal……. Harga beras naik lagi, katanya.

15.  SI PECI                       : Apa yang tidak naik?

16.  SI TUA                        : Semua naik.

17.  SI KURUS                  : Gaji kita tidak naik.

18.  SI KACAMATA         : Anak saya yang tertua tidak naik kelas.

19.  SI TUA                        : Uang seperti tidak ada harganya sekarang.

20.  SI KURUS                  : Tidak seperti…. Ah memang tak ada harganya.

21.  SI TUA                        : (mengangguk-angguk)

22.  SI PECI                       : Ya.

23.  SI KACAMATA         : Ya.

24.  SI PENDEK    : Menurut saya (menurunkan koran yang sejak tadi menutupi wajahnya. Sebentar ia berfikir sementara kawannya bersiap mendengar cakapnya). Menurut saya, sangat tidak baik kalau kita tak henti-hentinya mengeluh sementara masalah yang lebih penting pada waktu ini sedang gawat menantang kita. Dalam seruan serikat kerja kitapun telah dinyatakan demi menghadapi revolusi dan soal-soal lainnya yang menyangkut negara kita harus turut aktif dan bersiap siaga untuk segala apa saja dan yang terpenting tentu saja perhatian kita.

25.  SI TUA                        : (menggaruk-garuk)

26.  SI PENDEK    : Ya, baru saja saya baca dari koran….nich, korannya…. Bahwa kita harus waspada terhadap anasir-anasir penjajah, kolonialisme. Kita harus hati-hati dengan mulut yang manis dan licin itu. (tiba-tiba batuk dan keselek)…..tempe mahal tidak enak rasanya… (meneruskan yang semula) beras yang mahal hanya soal yang tidak lama.

27.  SI PECI                       : Ya.

28.  SI KACAMATA         : Ya.

29.  SI PENDEK                : Ya.

30.  SI TUA            : Dulu (batuk-batuk), dulu saya hanya membutuhkan uang sepeser untuk sebungkus nasi.

31.  SI PECI                       : Dulu?

32.  SI TUA                        : Ketika jaman normal.

33.  SI KURUS                  : Jaman Belanda.

34.  SI TUA            : Ya, jaman Belanda. Untuk sehelai kemeja saya hanya membutuhkan uang sehelai rupiah.

35.  SI KURUS      : Tapi untuk apa kita melamun, untuk apa kita mengungkap-ungkap yang dulu?

36.  SI PENDEK    : (makin berselera) Ya, untuk apa? Untuk apa kita melamun? Untuk apa kita mengkhayal? Apakah dulu bangsa kita ada yang mengendarai mobil? Sepedapun hanya satu dua orang saja yang memilikinya. Kalaupun dulu ada itulah mereka para bangsawan, para priyayi dan para amtenar yang hanya mementingkan perut sendiri saja. Sekarang lihatlah ke jalan raya.

37.  SI PENDEK    : …… Lihatlah Kemdal Permai, stanplat. Pemuda-pemuda kita berkeliaran dengan sepeda motor. Kau punya sepeda? Ya, kita bisa mendengarkan lagu-lagu dangdut dari radio. Ya?

38.  SI KACAMATA         : Ya.

39.  SI PENDEK                : Ya, tidak?

40.  SI KURUS                  : Ya.

41.  SI PENDEK                : Ya, tidak?

42.  SI TUA                        : (mengangguk-angguk)

43.  SI PENDEK    : Sebab itu kita tidak perlu mengeluh, apalagi melamun dan mengkhayal, sekarang yang penting kita bekerja, bekerja yang keras.

44.  SI KACAMATA         : Saya juga berpikir begitu.

45.  SI PENDEK    : Kita bekerja dan bekerja keras untuk anak-anak kita kelak.

46.  SI KACAMATA         : Saya ingin anak saya memiiki yamaha bebek.

47.  SI PENDEK                : Asal giat bekerja kita bebas berharap apa saja.

48.  SI KURUS      : Tapi kalau masih ada korupsi? Anak kita akan tetap hanya kebagian debu-debunya saja dari motor yang lewat di jalan raya.

49.  SI PECI                       : Ya.

50.  SI KACAMATA         : Ya.

51.  SI TUA                        : Ya, sekarang kejahatan merajalela.

52.  SI KURUS                  : Semua orang bagai diajar mencuri dan menipu.

53.  SI KACAMATA         : semua orang.

54.  SI KURUS      : Uang serikat kerja kitapun pernah ada yang menggerogoti (melirik kepada si pendek)

55.  SI PECI                       : Ya, setahun yang lalu. (melirik si pendek)

56.  SI KACAMATA         : Ya, dan sampai sekarang belum tertangkap tuyulnya. (melirik pad si pendek)

57.  SI TUA                        : (mengangguk-angguk)

http://i416.photobucket.com/albums/pp246/marciolimas/Download.gif