Archive for the ‘Drama Indonesia’ Category

MATAHARI DI SEBUAH JALAN KECIL

(Karya Arifin C. Noor)

 

http://img.kapanlagi.com/i/newkl/free/arifin_c_noer_01.jpgSebentar lagi berkas-berkas di langit akan buyar dan matahari akan memulai memancarkan sinarnya yang putih, terang dan panas. Jalan itupun akan mulai hidup, bernafas dan debu-debu akan segera berterbangan mengotori udara.

Jalan itu bukan jalan kelas satu. Jalan itu jalan kecil yang hanya dilalui kendaraan-kendaraan dalam jumlah kecil. Tetapi sebuah pabrik es yang tidak kecil berdiri di pinggirnya dan pabrik itu memiliki gedung yang sangat tua. Di depan gedung itulah para pekerja pabrik mengerumuni SIMBOK yang berjualan pecel di halaman.

Seorang laki-laki yang sejak malam terbaring, tidur di ambang pintu yang terpalang tak dipakai itu, bangun dan menguap setelah seorang yang bertubuh pendek membangunkannya. Laki-laki itu adalah PENJAGA MALAM.

 

  1. PENJAGA MALAM   : Uuuuuh, gara-gara pencuri, aku jadi kesiangan.
  2. SI PENDEK                : Tadi malam ada pencuri?
  3. PENJAGA MALAM   : Di sana, di ujung jalan itu! (menunjuk)
  4. SI PENDEK                : Tertangkap?
  5. PENJAGA MALAM   : Dia licik seperti belut. (menggeliat lalu pergi)
  6. SI PENDEK                : (duduk lalu membaca koran)

 

Seorang pemuda (anak laki-laki) membawa baki di atas kepalanya lewat. Ia menjajakan kue donat dan onde-onde. Suaranya nyaring sekali. Tak ada orang mengacuhkannya. Begitu ia lenyap seorang pemuda lewat pula yang berjalan dengan perlahan, berbaju lurik kumal, sepatu kain yang sudah rusak dan buruk, wajahnya pucat. Sebentar ia memperhatikan orang-orang yang tengah makan lalu ia pergi dan iapun tak diperhatikan orang.

Gemuruh mesin yang tak pernah berhenti itu, yang abadi itu, makin lama makin mengendur daya bunyinya sebab lalu lintas di jalan itu mulai bergerak dan orang-orang semakin banyak di halaman pabrik itu. SIMBOKpun makin sibuk melayani mereka. Lihatlah!

 

  1. SI TUA                        : (menerima pecel) Sedikit sekali.
  2. SIMBOK                     : (tak menghiraukan dan terus melayani yang lain)
  3. SI PECI                       : Ya, sedikit sekali (menyuapi mulutnya)

10.  SI TUA                        : Tempe lima rupiah sekarang.

11.  SI KACAMATA         : Beras mahal (membuang cekodongnya) kemarin istriku mengeluh.

12.  SI PECI                       : Semua perempuan ya ngeluh.

13.  SI KURUS                  : Semua orang pengeluh.

14.  SI KACAMATA         : Kemarin sore istriku berbelanja ke warung nyonya pungut. Pulang-pulang ia menghempaskan nafasnya yang kesal……. Harga beras naik lagi, katanya.

15.  SI PECI                       : Apa yang tidak naik?

16.  SI TUA                        : Semua naik.

17.  SI KURUS                  : Gaji kita tidak naik.

18.  SI KACAMATA         : Anak saya yang tertua tidak naik kelas.

19.  SI TUA                        : Uang seperti tidak ada harganya sekarang.

20.  SI KURUS                  : Tidak seperti…. Ah memang tak ada harganya.

21.  SI TUA                        : (mengangguk-angguk)

22.  SI PECI                       : Ya.

23.  SI KACAMATA         : Ya.

24.  SI PENDEK    : Menurut saya (menurunkan koran yang sejak tadi menutupi wajahnya. Sebentar ia berfikir sementara kawannya bersiap mendengar cakapnya). Menurut saya, sangat tidak baik kalau kita tak henti-hentinya mengeluh sementara masalah yang lebih penting pada waktu ini sedang gawat menantang kita. Dalam seruan serikat kerja kitapun telah dinyatakan demi menghadapi revolusi dan soal-soal lainnya yang menyangkut negara kita harus turut aktif dan bersiap siaga untuk segala apa saja dan yang terpenting tentu saja perhatian kita.

25.  SI TUA                        : (menggaruk-garuk)

26.  SI PENDEK    : Ya, baru saja saya baca dari koran….nich, korannya…. Bahwa kita harus waspada terhadap anasir-anasir penjajah, kolonialisme. Kita harus hati-hati dengan mulut yang manis dan licin itu. (tiba-tiba batuk dan keselek)…..tempe mahal tidak enak rasanya… (meneruskan yang semula) beras yang mahal hanya soal yang tidak lama.

27.  SI PECI                       : Ya.

28.  SI KACAMATA         : Ya.

29.  SI PENDEK                : Ya.

30.  SI TUA            : Dulu (batuk-batuk), dulu saya hanya membutuhkan uang sepeser untuk sebungkus nasi.

31.  SI PECI                       : Dulu?

32.  SI TUA                        : Ketika jaman normal.

33.  SI KURUS                  : Jaman Belanda.

34.  SI TUA            : Ya, jaman Belanda. Untuk sehelai kemeja saya hanya membutuhkan uang sehelai rupiah.

35.  SI KURUS      : Tapi untuk apa kita melamun, untuk apa kita mengungkap-ungkap yang dulu?

36.  SI PENDEK    : (makin berselera) Ya, untuk apa? Untuk apa kita melamun? Untuk apa kita mengkhayal? Apakah dulu bangsa kita ada yang mengendarai mobil? Sepedapun hanya satu dua orang saja yang memilikinya. Kalaupun dulu ada itulah mereka para bangsawan, para priyayi dan para amtenar yang hanya mementingkan perut sendiri saja. Sekarang lihatlah ke jalan raya.

37.  SI PENDEK    : …… Lihatlah Kemdal Permai, stanplat. Pemuda-pemuda kita berkeliaran dengan sepeda motor. Kau punya sepeda? Ya, kita bisa mendengarkan lagu-lagu dangdut dari radio. Ya?

38.  SI KACAMATA         : Ya.

39.  SI PENDEK                : Ya, tidak?

40.  SI KURUS                  : Ya.

41.  SI PENDEK                : Ya, tidak?

42.  SI TUA                        : (mengangguk-angguk)

43.  SI PENDEK    : Sebab itu kita tidak perlu mengeluh, apalagi melamun dan mengkhayal, sekarang yang penting kita bekerja, bekerja yang keras.

44.  SI KACAMATA         : Saya juga berpikir begitu.

45.  SI PENDEK    : Kita bekerja dan bekerja keras untuk anak-anak kita kelak.

46.  SI KACAMATA         : Saya ingin anak saya memiiki yamaha bebek.

47.  SI PENDEK                : Asal giat bekerja kita bebas berharap apa saja.

48.  SI KURUS      : Tapi kalau masih ada korupsi? Anak kita akan tetap hanya kebagian debu-debunya saja dari motor yang lewat di jalan raya.

49.  SI PECI                       : Ya.

50.  SI KACAMATA         : Ya.

51.  SI TUA                        : Ya, sekarang kejahatan merajalela.

52.  SI KURUS                  : Semua orang bagai diajar mencuri dan menipu.

53.  SI KACAMATA         : semua orang.

54.  SI KURUS      : Uang serikat kerja kitapun pernah ada yang menggerogoti (melirik kepada si pendek)

55.  SI PECI                       : Ya, setahun yang lalu. (melirik si pendek)

56.  SI KACAMATA         : Ya, dan sampai sekarang belum tertangkap tuyulnya. (melirik pad si pendek)

57.  SI TUA                        : (mengangguk-angguk)

http://i416.photobucket.com/albums/pp246/marciolimas/Download.gif

Telah Pergi Ia Telah Kembali Ia

Karya Arifin C. Noer

 

 

http://ibnuanwar.files.wordpress.com/2008/05/arifin-c.jpg?w=85&h=130Para pelaku    :

Pemimpin Koor

Koor

Penjahit

Thulaihah

Musailamah

Ali

Usman

Umar

Abu Bakar

 

Pada suatu sore di padang pasir yang luas, penduduk Madinah tengah mendapat kecaman yang luar biasa. Mereka panic oleh kekhawatiran, kacau oleh katkutan. Semua kahirnya menjadi satu bahwa pemimpin mereka, orang yang paling dicintai dan dimuliakan akan meninggal (wafat) di tengah-tengah kehidupannya. Siapa orang tersebut? Ternyata adalah Nabi Muhammad Saw.

Lihatlah mereka menunduk bagai menghindari bayangan mereka sendiri. salah seorang dari mereka menengadah ke langit, dia seperti meminta jawaban dari Allah terhadap pertanyaan yang merunyak di dalam dada dan kepala setiap orang.

Pengikut yang lain pun demikian halnya, mereka sama-sama mengharap jawaban tentang apa-apa yang tidak diketahuinya.

Laki-laki tadi adalah seorang tokoh atau pemimpin koor dalam pertunjukan Dramatik Reading ini dan yang lainnya adalah para koor. Dengan demikian pimpinan dan anggota koor adalah penduduk Madinah (muslim) yang senantiasa bertanya tentang manusia yang sebenarnya, yakni manusia kapan saja dan di mana saja.

 

ADEGAN 1

 

Pimpinan Koor

Ya Allah, Ya Rabbi! Ya, Allah, Ya Rabbi!

 

Koor

Ya Allah, Ya Rabbi! Ya, Allah, Ya Rabbi!

 

Pimpinan Koor

Ya, kekuasaan yang mengalirkan kehidupan

Ya, kekuasaan yang menyebarkan kehidupan

 

Koor

Ya, kekuasaan yang mengalirkan kehidupan

Ya, kekuasaan yang menyebarkan kehidupan

 

Pimpinan Koor

Taburkan ampun, tangan ini banyak dosanya

 

Koor

Turunkan ampun, tubuh ini bersimbah dosa

 

Pimpinan Koor

Wahai, demikian lunglaikan tulang-tulang?

 

Koor

Ya, sahabat. Ya, sahabat.

Tangan dan kaki tak bergerak.

Cemas dan khawatir tak berdesak-desak.

Alangkah lebat, o, alangkah lebat

Ketakutan menyebat-nyebat.

Ya, sahabat, ya sahabat

 

Pimpinan Koor

Gerangan apakah yang menyebabkan

Gerangan apakah yang telah datang

 

Koor

Baginda sakit yang menyebabkan kebimbangan berputar-putar

Rasulullah terbaring lemah badan, membuat dada bergetar-getar

 

Pimpinan Koor

Sakit apakah. Sakit apakah?

Dapatkah tangan yang dina, dapatkah hati yang papa

Menolong menyembuhkan, ya Allah?

 

Koor

Sakit apakah yang ia rasa, sakit apakah yang ia derita

Kita tak tahu apa obatnya, hanya tahu bingung saja

 

Pimpinan Koor

Dan Madinah, makin hari makin merana

Sebab merasa bencana atau sebangsanya akan segera tiba

Yang getir dirasa akan segera tiba

 

Koor

Apakah tak ada obat, apakah tak ada obatnya?

Atau memang sudah saatnya dia akan pergi dan kita harus sedih?

 

Pimpinan Koor

Demikianlah rupanya. Batang-batang korma yang telah juga memberitakan

Onta-onta yang payah juga telah menceritakan

Dan apabila kami semakin mengerti, maka hati pun terpekik

 

Koor

O…ya Allah.

 

http://i416.photobucket.com/albums/pp246/marciolimas/Download.gif

SUMUR TANPA DASAR

Karya Arifin C. Noer

 

http://sastradrama.files.wordpress.com/2010/10/arifinc-noer.jpg?w=196&h=196DRAMATIC PERSONAE

 

 

 

 

 

 

JUMENA WARTAWANGSA                        Lelaki Tua

EUIS                                                                Istrinya

PEREMPUAN TUA                                        Pembantunya

MARJUKI KARTADILAGA                          Adik angkatnya

SABARUDDIN NATAPRAWIRA                 Guru Agama

WARYA                                                          Pegawainya

EMOD                                                             Pegawainya

KAMIL                                                           Si Sinting

LELAKI                                                          Pelukis Sinting

MARKABA                                                    Tokoh Jahat

LODOD                                                          Tokoh Idiot

PEMBURU Alias SANGKAKALA

KABUT-KABUT, ORANG-ORANG

Dan LAIN-LAIN

 

WAKTU                                                          Kapan Saja

 

TEMPAT

Di rumah, dalam pikiran Jumena Martawangsa atau di mana saja

 

BAGIAN PERTAMA

 

 

1

SANDIWARA INI KITA MULAI DENGAN SUARA DETAK-DETIK LONCENG YANG MENGGEMA MEMENUHI  RUANG. SUARA DETAK-DETIK INI BERJATUHAN SEDEMIKIAN RUPA SEHINGGA MENIMBULKAN BERMACAM-MACAM ASOSIASI. SESEKALI DI SELA-SELA SUARA INI MENYAYUP PANJANG LOLONG ANJING ATAU SRIGALA YANG SEDANG ‘MERAIH’ BULAN.

 

2

LONCENG ITU ANTIC, TUA, AGUNG DAN KUKUH PENUH RAHASIA. DARI RONGGA LONCENG MUNCUL KABUT-KABUT ATAU PARA PEMAIN YANG MELUKISKAN KABUT-KABUT. MEREKA MELANGKAH MENGENDAP-ENDAP UNTUK SELANJUTNYA SECARA PENUH RAHASIA MENYEBAR KE SEGENAP ARAH DAN SEGERA GAIB SIRNA.

 

3

PIGURA ITU TANPA GAMBAR TANPA POTO, KOSONG, TERGANTUNG SUNYI DAN PENUH RAHASIA

 

4

DI ATAS KURSI GOYANG JUMENA MARTAWANGSA BERGOYANG-GOYANG SUNYI. TAMPAK SESAK PERNAFASANNYA. SEKALI PUN BEGITU, KEDUA MATANYA MASIH MENYOROTKAN PANDANGAN YANG TAJAM. AMAT TAJAM. DAN DALAM KEADAAN SEPER JUMENA KELIHATAN SEPERTI SEDANG MENGHITUNG DETAK-DETIK LONCENG.

SEJAK TADI, SEONGGOK KABUT BERDIRI DI SAMPINGNYA MEMEAINKAN SEHELAI TALI YANG SIAP UNTUK MENGGANTUNG LEHER. AGAK BEBERAPA SAAT JUMENA MENIMBANG-NIMBANG TALI ITU. KEMUDIAN KABUT ITU MENDEKATKAN TALI GANTUNGAN ITU DAN JUMENA MENCOBA MEMASANG PADA LEHERNYA. DIA TERTAWA.

 

JUMENA

Kalau saya bunuh diri, sandiwara ini tidak akan pernah ada

 

Sambil tertawa ia memberikan isyarat agar kabut pembawa tali pergi. Dan pada saat itu detak-detik lonceng semakin lantang. Dari rongga lonceng muncul Sang Kala alias Pemburu yang siap dengan senapannya. Ketika senapan itu meletus, terkumpullah seluruh amarah dan kekagetan Jumena

 

JUMENA

Bangsat!

 

TATKALA SANG KALA GAIB BERDENTANGANLAH LONCENG ITU. KEMUDIAN BERDENTANG JUGALAH BERJUTA LONCENG-LONCENG  DAN WEKER. SEDEMIKIAN RUPA SUARA ITU MENEROR SEHINGGA MENYEBABKAN JUMENA BANGKIT. DAN PADA SAAT JUMENA BERDIRI, HENING MENGGANTIKAN SUASANA. LALU JUMENA DUDUK KEMBALI.

 

PEREMPUAN TUA MUNCUL MENGGANTI TEMPOLONG LUDAH DI KAKI KURSI GOYANG DENGAN TEMPOLONG YANG LAIN.

 

P. TUA (Sambil pergi)

Terlalu bernafsu. Pucat sekali wajahnya

 

5

 

ENTAH DARI SEBELAH MANA EUIS MUNCUL

 

JUMENA

Kalau saya bisa percaya, saya tenang. Kalau saya bisa tidak percaya, saya tenang. Kalau saya percaya dan bisa tidak percaya, saya tenang. Tapi saya tidak percaya dan tidak bisa tidak percaya, jadi saya tidak tenang. Tapi juga kalau saya tenang, tak akan pernah ada sandiwara ini

 

EUIS

Akang

 

JUMENA

Euis

 

EUIS

Apa yang akang lihat?

 

JUMENA

Kau

 

EUIS

Kenapa?

 

JUMENA

Ingin tahu apa kau betul-betul cantik

 

EUIS MERANGKUL DAN MENCIUMI JUMENA, TELINGA JUMENA DAN LAIN-LAIN SEHINGGA MEMBUAT JUMENA KEGELIAN. KEDUANYA TERTAWA-TAWA. SEKONYONG-KONYONG JUMENA MEMATUNG, MURUNG

http://i416.photobucket.com/albums/pp246/marciolimas/Download.gif

PADA SUATU HARI

Karya : ARIFIN C. NOOR
Ijin Penyiaran dan pementasan pada Teater Kecil Jakarta

http://www.jakarta.go.id/jakv1/application/public/img/encyclopedia/d741f85f4fe801a94a735932a297a170.jpgPara Tokoh:
Nenek
Kakek
Pesuruh
Janda, Nyonya Wenas
Arba, Sopir
Novia
Nita
Meli
Feri

SANDIWARA INI DIMULAI DENGAN MENG-EXPOSE LEBIH DULU:
1. POTRET KAKEK  DAN NENEK KETIKA PACARAN
2. POTRET KAKEK  DAN NENEK KETIKA KAWIN
3. POTRET KAKEK  DAN NENEK DENGAN ANAK-ANAK
4. POTRET KELUARGA BESAR
5. POTRET KAKEK  TUA
6. POTRET NENEK TUA
7. MAIN TITLE ETC-ETC

Kakek  dan Nenek duduk berhadapan.
Beberapa saat mereka saling memandang, Beberapa saat mereka saling tersenyum. Suatu saat mereka sama-sama menuju ke sofa, duduk berdampingan, seperti sepasang pemuda dan pemudi. Setelah mereka ketawa kembali mereka duduk berhadapan. Lalu beberapa saat saling memandang, tersenyum, lalu ke sofa lagi duduk berdampingan, seperti pepasang pengantin, malu-malu dan sebagainya, demikian seterusnya..

TIGA
Kakek Sekarang kau nyanyi.
Nenek (menggeleng sambil tersenyum manja)
Kakek Seperti dulu.
Nenek (menggeleng sambil tersenyum manja)
Kakek Nyanyi seperti dulu.
Nenek (Malu)
Kakek Sejak dulu kau selalu begitu.
Nenek Habis kaupun selalu mengejek setiap kali saya menyanyi.
Kakek Sekarang tidak, sejak sekarang saya tidak akan pernah mengejek kau lagi.
Nenek Saya tidak mau menyanyi.
Kakek Kapanpun?
Nenek Kapanpun.
Kakek Juga untuk saya.
Nenek Juga untuk kau.
Kakek Sama sekali?
Nenek Sama sekali.
Kakek Kau kejam. Saya sangat sedih. Saya mati tanpa lebih dulu mendengar kau

menyanyi.

Nenek Sayang, kenapa kau berfikir kesana? Itu sangat tidak baik, lagi tidak ada gunanya.

Sayang , berhenti kau berfikir tentang hal itu.

Kakek Mati saya tidak bahagia karena kau tidak maumenyanyi. Ini memang salah saya.

Tetapi kalau sejak dulu kau cukup mengerti bahwa saya memang sangat memainkan kau, tentu kau bisa memaafkan segala macam ejekan-ejekan saya. Tuhan, saya kira saya akan menghembuskan nafas saya yang terakhir tatkala kau sedang menyanyikan sebuah lagu ditelinga saya.

Nenek Sayang saya mohon berhentilah kau berfikir mengenai hal itu. Demi segala-galanya berhentilah. Tersenyumlah lagi seperti biasanya.

Kakek Saya akan tersenyum kalau kau mau mengucapkan janji.
Nenek Tentu, tentu.
Kakek Kau mau menyanyi.
http://i416.photobucket.com/albums/pp246/marciolimas/Download.gif

Kisah cinta dan lain-lain

Karya Arifin C. Noer

 

http://ibnuanwar.files.wordpress.com/2008/05/arifin-c.jpg?w=85&h=130MEWAH, MUSIK SEBUAH RUANG TENGAH DARI SEBUAH RUMAH YANG SANGAT SEPI. PINTU KAMAR ITU TERTUTUP, RUANG LENGANG

OTONG LEWAT. PINTU KAMAR ITU TERBUKA TUAN MANTO DAN DOKTER X MUNCUL

 

TUAN

Tak ada jalan lain, dokter?

 

DR.X (menggeleng)

 

TUAN

Mungkin ada, mungkin ada dokter lain yang bisa menolong?

 

DR.X

Hasilnya akan sama. Ini bukan semata penyakitnya yang memang sangat parah, tapi juga usianya yang sudah sangat tua. Dan lagi dia tak punya sedikitpun semangat dan kemampuan untuk hidup.

 

TUAN

Barangkali saya yang salah. Kami agak terlambat menghubungi barangkali

 

DR.X

Saya kira tuan dan Nyonya sudah cukup berusaha seperti jua saya. Nah tuan, saya kira sudah waktunya saya pergi. Saya harap tuan dapat menghibur hati Nyonya supaya tabah.

 

TUAN

Terima kasih dokter

 

DR.X

Selamat sore tuan

 

TUAN

Selamat sore

 

Dr.X DAN TUAN MANTO EXIT.

PINTU TERBUKA NYONYA MUNCUL DALAM TANGIS, TUAN MUNCUL LALU MENGHAMPIRI

 

TUAN

Sudahlah

 

NYONYA

Kau harus dapat menyembuhkan. Kau tau saya sangat sayang kepadanya.

 

TUAN

Apalagi yang harus saya perbuat?

 

NYONYA

Saya tidak peduli

 

TUAN

Sudah dua orang dokter

 

NYONYA

Bila perlu seluruh dokter hewan yang ada. Saya tidak perduli dengan apa yang akan kau perbuat ( diam ). Kau jangan diam saja.

 

TUAN (meledek).

Apa saya banting saja dia?

 

NYONYA

Kasarnya (menjerit, menangis) (lalu exit)

 

TUAN

Maar saya bingung (menghampiri exit)

 

WEKER MENUNJUKKAN JAM OTONG MEMUTAR JAM ITU LALU EXIT

PINTU TERBUKA, DOKTER Y. MUNCUL LALU EXIT, LALU TUAN DAN NYONYA MUNCUL

 

NYONYA

dia memang dokter paling bodoh yang ada di Jakarta ini. Kenapa kau panggil dokter pandir itu?

 

TUAN

Siapa lagi kenalan kita? Professor Marjo?

 

NYONYA

Ya, orang tua itu pasti bisa menolong nyawanya, apa Nyonya   Dia memang dokter paling bodoh yang ada di Jakarta ini. Kenapa kau panggil kau percaya pada mulut dokter swasta tadi? Bahwa umurnya tinggal satu jam

 

TUAN

Tak tau lah ( exit )

 

TERDENGAR SUARA TUAN MANTO MENGHUBUNGI PROFESSOR MARJO LEWAT TELEPHON

NYONYA

Willem !

 

WILLEM (muncul)

ya, Nyonya

 

NYONYA

Buatkan bubur, sop sudah masak?

 

WILLEM

Sudah NYONYA.

 

NYONYA

Dagingnya sudah hancur?

 

WILLEM

Dagingnya juga sudah, Nyonya

 

NYONYA

Bawa saja sup itu kekamar dulu. Juga susunya

 

WILLEM

Saya Nyonya (exit)

 

TUAN MUNCUL

 

NYONYA

Bagaimana?

 

TUAN

Sebentar lagi dia datang

 

NYONYA

Dia pasti datang

 

TUAN (memotong dengan keras)

OTONG!

 

OTONG (muncul)

ya, Tuan.

 

TUAN

Siapa yang mematikan AC itu?

 

OTONG

Saya tuan

 

TUAN

Bangsat!!

http://i416.photobucket.com/albums/pp246/marciolimas/Download.gif

Lakon Lima Babak

Kapai-Kapai

Arifin C. Noer (1970)

 

http://sastradrama.files.wordpress.com/2010/10/arifinc-noer.jpg?w=196&h=196DRAMATIC PERSONAE

Abu

Iyem

Emak

Yang Kelam

Bulan

Majikan

Kakek

Jin

Putri

Pangeran

Bel

Pasukan Yang Kelam

Kelompok Kakek

Seribu Bulan Yang Goyang-Goyang

Gelandangan

Tanjidor dll

 

BAGIAN PERTAMA

DONGENG EMAK

Satu

EMAK

Ketika prajurit-prajurit dengan tombak-tombaknya mengepung istana cahaya itu, sang Pangeran Rupawan menyelinap diantara pokok-pokok   puspa, sementara air dalam kolam berkilau mengandung cahaya  purnama. Adapun sang Putri Jelita, dengan debaran jantung dalam dadanya yang baru tumbuh, melambaikan setangan sutranya    dibalik tirai merjan, dijendela yang sedang mulai ditutup oleh dayang-dayangnya. Melentik air dari matanya bagai butir-butir mutiara.

 

ABU

Dan sang Pangeran, Mak ?

 

EMAK

Dan Sang Pangeran, Nak ? Duhai, seratus ujung tombak yang tajam berkilat membidik pada satu arah ; purnama di angkasa berkerut wajahnya lantaran cemas, air kolam pun seketika membeku, segala bunga pucat lesu mengatupkan kelopaknya, dan…

 

ABU

Dan Sang Pangeran selamat, Mak ?

 

EMAK

Selalu selamat. Selalu selamat.

 

ABU

Dan bahagia dia, Mak ?

 

EMAK

Selalu bahagia. Selalu bahagia.

 

ABU

Dan sang Putri, Mak ?

 

EMAK

Dan sang Putri, Nak ? Malam itu merasa lega hatinya dari tindihan kecemasan. Ia pun berguling-guling bersama Sang Pangeran dalam mimpi yang sangat panjang, diaman seribu bulan menyelimuti kedua tubuh yang indah itu penuh cahaya.

 

ABU

Dan bahagia, Mak ?

 

EMAK

Selalu bahagia. Selalu bahagia.

 

MAJIKAN

Abu !

 

EMAK

Sekarang kau harus tidur. Anak yang ganteng mesti tidur sore-sore.

 

ABU

Sang Pangeran juga tidur sore-sore, Mak ?

 

EMAK

Tentu. Sang Pangeran juga tidur sore-sore karena dia anak yang ganteng. Kau seperti Sang Pangeran Rupawan.

 

MAJIKAN

Abu !

 

ABU

Mak ?

 

MAJIKAN

Abu !

 

ABU

Bagaimana keduanya bisa senantiasa selamat ?

 

MAJIKAN

Abu !

 

EMAK

Berkat cermin tipu daya.

 

ABU

Berkat Cermin Tipu Daya, Mak ?

 

MAJIKAN

Abu !

 

EMAK

Semuanya berkat Cermin Tipu Daya.

 

ABU

Cuma berkat itu ?

 

MAJIKAN

Abu !

 

EMAK

Cuma berkat itu.

http://i416.photobucket.com/albums/pp246/marciolimas/Download.gif

TONGSENG

oleh Agung Widodo

 

http://www.jajanan.com/files/image/tongseng-pak-nur_0.jpgSENJA, 17. 30 PETANG. TERDENGAR ALUNAN MUSIK DANGDUT DARI RUMAH PEMULUNG. LASTRI -SEORANG PEREMPUAN BERUSIA ± 20 TAHUN- BERJALAN TERTATIH LANTARAN KESAKITAN KARENA INGIN MELAHIRKAN. DITOPANG SEORANG LELAKI -BAPAKNYA LASTRI BERUSIA ± 45 TAHUN- MENUJU KE RUMAH BERSALIN. DIHADANG RESEPSIONIS RUMAH BERSALIN
RESEPSIONIS
Ada yang bisa saya bantu, Pak?

BAPAK
Yang kamu lihat apa? Masih ditanya.

RESEPSIONIS
Ibu suruh masuk. Bapak menyelesaikan administrasi dulu.

BAPAK
Administrasi apa? [Melangkah masuk].

RESEPSIONIS
Pak, Pak. Bapak tinggal di sini. Bapak belum menyelesaikan administrasi.

BAPAK
Kalau dia mati?

RESEPSIONIS
Tapi Bapak belum mendaftar.

BAPAK
Saya bukan ingin sekolah.

RESEPSIONIS
Bukan urusan soal sekolah. Tapi ini prosedur, Pak. Yang tidak daftar, tidak diakui sebagai pasien. Dan, selain pasien tidak akan dilayani.

BAPAK
Kata siapa? Ibu jangan semena-mena. Apa ada peraturan seperti itu?

RESEPSIONIS
Ini bukan masalah ada atau tidak, Pak. Kalau Bapak masih berkeinginan bersalin di sini. Kalau tidak, tidak usah ngisi juga tidak apa-apa.

BAPAK
Ya sudah, mana?

RESEPSIONIS
Saya tidak terbiasa menyia-nyiakan waktu.

 

MEMBERIKAN FORMULR PENDAFTARAN

RESEPSIONIS
Nama, tempat tanggal lahir, alamat, dan pekerjaan diisi lengkap.

BAPAK
Saya tidak bisa nulis.

RESEPSIONIS
Sini, biar saya yang nulis. Nama?

BAPAK
Abdul Wakid.

RESEPSIONIS
Tempat tanggal lahir, alamat lengkap, dan pekerjaan?

BAPAK
Babakan, 18 Agustus 1953. Alamatnya, sebelah situ. Dari sini kelihatan.

RESEPSIONIS
Pekerjaan?

BAPAK
Pemulung.

RESEPSIONIS
Di sini tidak menerima jaminan, Pak.

BAPAK
Maksud, Ibu?

RESEPSIONIS
Biasanya yang datang ke mari langsung bayar uang di muka.

 

BAPAK MENGAMBIL UANG DARI CELANANYA.

BAPAK
Sepuluh ribu dulu. Kurangannya nyusul.

RESEPSIONIS
Tidak bisa, Pak. Minimal separonya, dua ratus lima puluh ribu rupiah.
http://i416.photobucket.com/albums/pp246/marciolimas/Download.gif

Koran

karya agung widodo

 

http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSm62rjt8hjcmrOTlJt5_rq3cSdKunUMujzjoZOoXeZCl4EmHI&t=1&usg=__oNSrQgncnG7zKZqJFZolNjQ7w5A=SINOPSIS

 

SANAH SEORANG ISTRI YANG SELINGKUH DENGAN ORANG TUA KAYA RAYA YANG BERNAMA MBAH RAKEN. SUAMINYA SUDAH TIDAK MENGURUSINYA LAGI. SUATU SAAT IA DAN MBAH RAKEN YANG SEDANG PIJIT-PIJITAN DI WARUNGNYA SANAH TERTANGKAP OLEH KAMERA SEORANG WARTAWAN YANG SEDANG MELIPUT BERITA TENTANG RENCANA PENGGUSURAN OLEH SATPOL PP. DALAM RANGKA ACARA PROMOSI KOTA. FOTONYA DIMUAT DI HEADLINE SEBUAH KORAN HARIAN KOTA. AKHIRNYA PROSES PERSELINGKUHAN SANAH DAN MBAH RAKEN TERBONGKAR OLEH SEBUAH FOTO DI KORAN.

PROLOG PEMENTASAN
NARATOR MEMBACAKAN SINOPSIS DAN PEMERAN DARI BELAKANG LAYAR. SEMENTARA DI PANGGUNG, SANAH NGALAMUN SENDIRIAN. SELANG BEBERAPA DETIK MBAH RAKEN DATANG. BERBINCANG-BINCANG SEBENTAR LALU MEREKA AKRAB DAN TERLIHAT MESRA SAMPAI AKHIRNYA MEREKA BERDUA SALING BERDEKATAN DAN SANAH TERLIHAT DIPIJIT OLEH MBAH RAKEN. KEMUDIAN DATANG SEORANG WARTAWAN YANG MEMOTRET WARUNG SANAH. WARTAWAN KELUAR. DI SLIDE MENAMPILKAN REKAMAN MESIN PERCETAKAN KORAN YANG SEDANG DALAM PROSES PENCETAKAN. SUARA PERCETAKAN GEMURUH. DI ARENA PENONTON BANYAK PEDAGANG KORAN YANG BERTERIAK MENDAGANGKAN KORAN. MEMBACAKAN HEADLINE. “RENCANA PENGGUSURAN PKL DALAM RANGKA PROMOSI KOTA.

KARAKTER

 

RAKEN

orang tua kaya raya jatuh cinta pada sanah. saingan joko pemuda parkir.

JOKO pemuda tukang parkir juga suka pada sanah. saingan mbah raken.
KUPAR anak laki-laki sanah. Kurang normal.
SANAH pedagang warungan. diributkan raken dan joko. emaknya kupar.
MASDI pedagang koran langganan warung sanah.
KARTA suami sanah yang jarang ngurusi.
PENI istri raken yang dikhianati.

LATAR PELATARAN GEDUNG INSTANSI.
WAKTU PAGI HARI SAAT KORAN TERBIT.

 

 

 

ADEGAN I

 

SANAH DATANG MENGGORENG BAKWAN. SUARA PENGGORENGAN TERDENGAR NYARING. TERUS DITINGGAL KELUAR. KUPAR DATANG MENGAMBIL PISANG DAN SEBOTOL MINUMAN BERSODA. MINUMAN SODA DIBUKA DAN AIRNYA MUNCRAT KENA MUKANYA. SETELAH ITU IA MAKAN PISANG DAN KULITNYA DIBUANG SEMBARANGAN. LANTAS IA NGUMPET DI TONG SAMPAH.
ADEGAN 2

 

SANAH–EMAKNYA KUPAR–DATANG MEMBAWA KOTAK KRUPUK. DIDASARKAN DI WARUNGNYA. MERASA KEHILANGAN DAGANGAN DAN MELIHAT KULIT PISANG TERSERAK, IA MENCARI KUPAR DI TEMPAT PERSEMBUNYIANNYA–KARENA SUDAH TERBIASA.

SANAH
pasti…., ini pasti perbuatan kupar. wis, dasar anak itu. pisang. apa lagi yang diambilnya?
(menghitung dagangan). minuman. ya, minuman sebotol. minta diamputasi itu anak. (mencari kupar) ngumpet di mana, dia? awas, ya! ketemu tak uyel-uyel kamu, nak! (kupar tidak ada. lantas ia mencarinya lagi) kok ndak ada? lantas di mana anak itu? (mengambil wajan–tempat penggorengan) kupar…. pasti di sini. (kupar ketangkap. sanah marah-marah, wajah kupar diolesi dengan angus) ni…, satu lagi untuk kamu. kapan kapok? (kupar lantas pergi. sanah kembali ke warungnya) kalau begini caranya, bisa bangkrut saya, tuhan. kok pas ketiban saya? apa pas tinggal yang model seperti itu?
ADEGAN 3

 

RAKEN DATANG. MERAYU SANAH SAMBIL MEMBANTU MENDASARKAN DAGANGAN SANAH.
RAKEN
ada apa pagi-pagi kok sudah marah-marah?

SANAH
lha sampean pagi-pagi kok sudah sampai sini?

RAKEN
orang ditanya belum dijawab kok malah sudah balik nanya.(AMBIL ROKOK) marah pada siapa? kupar?

SANAH
tuhan!

RAKEN
tuhan?

SANAH
ya, tuhan. kok ketiban saya diberi anak modelnya seperti itu. setiap hari nyolong dagangan emaknya. kalau begitu terus, bisa bangkrut saya.

RAKEN
namanya anak seperti itu ya diwajari. disyukuri. mending. lagipula bapaknya juga seperti itu. malah parah bapaknya. kamu ingat, waktu bapaknya digebuki orang sekampung pas dia nyolong ulek-ulek di rumahnya de wardi?

SANAH
lah, sudahlah, kang!

RAKEN
ngakunya kamu nyidam anak laki-laki. apa bener?

SANAH
ya itu jadinya. kupar!

RAKEN
berarti sudah jelas. keturunan. namanya buah, nah.

SANAH
maksudnya?

RAKEN
maksudnya caranya yang salah. kalau pingin anak laki-laki, kenapa suamimu pakai acara nyolong ulek-ulek segala?

SANAH
bukan nyolong.

RAKEN
lantas?

SANAH
tapi dia sayang sama saya, kang. karena itu dia berbuat itu.

RAKEN
kalau sayang, kenapa dia meninggalkan kamu sendirian ngulek sambel sendiri di sini?

SANAH
ndak tahu, kang. barangkali sayangnya pas dia nyolong ulek-ulek itu tok.

RAKEN
tapi saya ndak lho, nah. saya, kalau sudah sayang sama orang, ya sampai….

SANAH (menyahut)
sampai mati?

RAKEN
hust… jangan ngomong masalah mati.

SANAH
lha memangnya kenapa, kang? bukankah di tipi-tipi banyak yang ngomong seperti itu? saya akan menyayangimu sampai mati.

RAKEN
apa ada orang mati masih bisa sayang-sayangan?

SANAH
ya ndak ada, kang. mau sayang-sayangan sama siapa? (sanah ke belakang nyuci piring) sebenarnya kang raken pagi-pagi kemari mau apa? sarapan?

RAKEN
kangen!

SANAH
kangen? aduh, kang..kang.

RAKEN
iya, kangen mijeti kamu lagi. semalam saya tidak bisa tidur gara-gara kemarin mijeti kamu. serius! duduk sini saja, nah.

SANAH
saya sedang sibuk, kang!

RAKEN
nanti tak bantu. duduk di sini saja dulu. tak pijitin lagi.

SANAH
kang, saya sedang sibuk.

RAKEN
halah…, sebentar saja…!

SANAH
kang, kalau kang raken ngaku sayang saya, tolong kang raken pulang dulu. nanti kemari lagi. siangan sedikit.

RAKEN
wong saya itu kangennya sekarang, nah. sejak semalam tak empet pingin ketemu kamu, terus tak pijeti, kok malah diusir.

SANAH
saya tidak ngusir, kang.

RAKEN
terus apa kalau tidak ngusir?

SANAH
wis lah, pokoknya kang raken sekarang pulang saja dulu. atau kalau tidak mau pulang, ya jalan-jalan saja ke mana. nanti siang-siang sedikit kemari lagi. masalahnya…..

http://i416.photobucket.com/albums/pp246/marciolimas/Download.gif

RAHWANA

Karya: Abdul Mukhid

 

http://www.translatorscafe.com/cafe/images/Translators/1503.JPGREPORTOAR PEMBUKA

(Adegan penculikan Shinta oleh Rahwana di hutan. Improvisasi)

 

BABAK SATU

ADEGAN 1

(Kerajaan Alengka waktu senja. Di bagian taman sari. Taman Asyoka yang sudah masyhur namanya. Terlihat para dayang melayani Shinta. Rahwana sedang bercengkerama dengan Sinta. Rahwana tidak digambarkan sebagai tokoh raksasa yang jelek, tapi sebagai seorang yang gagah dan wajah lumayan tampan. Taman sari itu adalah sebuah taman sari yang sangat indah. Tokoh dayang-dayang boleh ada boleh tidak)

RAHWANA: (Kepada dayang-dayang) Kalian boleh pergi.

(Para dayang memberi hormat, lalu pergi. Tinggal Rahwana dan Shinta berdua)

RAHWANA: Kau tahu kenapa aku membawamu kemari?

SHINTA: (Pura-pura tidak tahu) Tidak.

RAHWANA: Bahkan aku bisa melihat kepura-puraan di matamu. (Shinta diam saja. Sedikit salah tingkah) Apakah kau sudah melupakan gemuruh perasaan yang ada di dada kita?

SHINTA: Tentu saja tidak, Kanda Rahwana. Tapi, saling mencintai bukan harus memiliki, kan? Aku kira itu adalah hukum alam yang tidak terbantahkan lagi. Bukankah kau sendiri pernah berkata begitu?

RAHWANA: Lantas kenapa aku tidak boleh memilikimu?

SHINTA: Ini sudah takdir Sang Mahatunggal, Kakang.

RAHWANA: (Dengan agak kesal) Oh ya? Apakah juga takdirNya bahwa engkau harus menikah dengan Rama?

SHINTA: (Terdiam sejenak. Mencoba mengatasi perasaannya sendiri. Lalu dengan berat berkata) Tampaknya memang begitu, Kakang.

Hening sesaat

SHINTA: Dengarlah, Kakang. Aku yakin, Kakang sudah tahu perasaanku tanpa harus aku katakan. Tapi sekali lagi Kakang, ini memang sudah takdir. Ini perintah dari guru sejatiku. Bukankah Kakang juga punya cita-cita untuk bertemu dengan Sang Sejati? Inilah jalannya, Kakang. Kita harus menyingkirkan segala perasaan cinta duniawi yang berlebihan. Aku adalah bagian dari dunia ini, dan Kakang diberi ujian untuk tidak mengikatkan diri padaku. Begitu pula dengan aku.

RAHWANA: Tapi aku ingin memandang wajahNya lewat wajahmu. Aku ingin mencintai diriNya yang ada dalam dirimu sekaligus yang meliputimu.(Gusar) Tidak. Tidak. Pasti ini semua karena Rama. Kenapa? Apa kau terpikat dengan ketampanannya? Rayuannya? Kekayaannya? Dengar Sinta, aku memang tak punya apa-apa. Tapi lihat betapa makmur negeri ini. Memang istana ini bukan punyaku. Rumahku hanyalah sekedar untuk tempat berbakti pada kepada Sang Mahasuci. Baik. Apa kau menginginkan kekayaan dan kemewahan? Ketampanan dan kata-kata manis? Kau bisa mendapatkan apa pun yang kau inginkan, Adinda. (Pause) Asal bukan Rama.

SHINTA: (Mulai mencucurkan airmata) Tidak, Kakang. Kenapa Kakang tidak percaya juga bahwa ini adalah takdir yang harus kita jalani.

RAHWANA: (emosional) Takdir, Shinta? Dengar, aku akan mengejar para dewata ke langit kalau itu memang takdir. Tidak, Shinta. Aku tidak bisa terima ini. Kalau memang ini adalah takdir seperti yang kau katakan, aku akan mengubahnya!

SHINTA terduduk dan menangis sejadi-jadinya.

http://i416.photobucket.com/albums/pp246/marciolimas/Download.gif