Archive for the ‘Drama Anak – Remaja’ Category

SANDAL JEPIT

Karya  Herlina Syarifudin

 

http://photos-p.friendster.com/photos/41/32/15102314/17962297744371l.jpgPara pelakon

  1. JOKO
  2. PEGGY
  3. LALA
  4. ‘MASKOT’  (tak berwujud, hanya suara saja)
  5. EMAK JOKO
  6. PARA PENARI/PROPERTY MAN/HEWAN PELIHARAAN

 

PEMBUKA

(TAMPAK PARA PENARI DENGAN HAND PROP SENDAL JEPIT DI TANGAN DAN KAKI BERGERAK, MEMBENTUK KOREOGRAFI GERAK YANG HARMONIS, DIIRINGI ALUNAN MUSIK GAMELAN – ATAU ALAT MUSIK TRADISIONAL LAIN MENYESUAIKAN DAERAH MASING-MASING, DIPADU ALAT MUSIK MODERN; PIANO, GITAR DAN  DRUM. PADA MENIT TERTENTU PARA PENARI BERGULINGAN LALU MEMBENTUK FORMASI PROPERTY PANGGUNG; ADA YANG MENJADI MEJA, KURSI, RAK SENDAL/SEPATU, DAN GANTUNGAN BAJU – FREEZE, LAMPU BLACK OUT; PROP RAK SEPATU DIISI DENGAN SEPATU DAN SENDAL, MEJA DITARUH PESAWAT TELPON – LAMPU FADE IN)

 

ADEGAN 1

 

(PAGI, RUANG TENGAH RUMAH JOKO )

(DARI BALIK WING TIBA-TIBA BEBERAPA SENDAL DAN SEPATU DILEMPAR TAK BERATURAN KE DALAM PANGGUNG, DIIRINGI FADE IN OMELAN JOKO)

 

JOKO

Ugh, ditaruh dimana sih sepatuku. (Joko Menuju Rak Sepatu) Walah, kenapa cuma satu. (Hp Joko Berbunyi) Aduh, nenek trembel pasti mau berkicau lagi nih. Males ah. (Hp Dibiarkan Terus Berbunyi, Selang Beberapa Detik Kemudian, Telpon Rumah Berdering) Ugh, gigih juga dia. Tak ada akar, rotanpun jadi. Bodo ah. (Teriak) Maakkk ! Joko berangkat dulu. (Joko Mengambil Sendal Jepit Seadanya, Lantas Pergi)

 

EMAK

Hati-hati, Nak. Itu angkat dulu sebentar telponnya. Emak lagi menggoreng tempe, nanti gosong. (Tidak Ada Sahutan, Telpon Rumah Tetap Berdering.)

 

’MASKOT’

Aduh, ini apaan sih. Pagi-pagi sudah berisik. Diam kamu telpon! Kalau tidak, aku banting nanti.

(Telpon Lalu Berhenti Berdering)

 

’MASKOT’

Nah, gitu. Kan tenang.

(Lampu Berubah, Diiringi Property Man Bergulingan Berubah Menjadi Pohon Dan Kursi Taman, Lampu General Suasana Taman Pagi Hari)

http://i416.photobucket.com/albums/pp246/marciolimas/Download.gif

TAPLAK MEJA

Karya Herlina Syarifudin

 

http://sastradrama.files.wordpress.com/2010/10/me.jpg?w=163&h=220PARA PELAKU

  1. PAKDE KEMPUL
  2. BUDE KIRANTI
  3. KEMPRUT
  4. WIRID
  5. GENTING
  6. JANTHIL
  7. SOWER
  8. PENGHULU
  9. ORANG TUA GENTING
  10. ORANG TUA KEMPRUT
  11. IBUNYA JANTHIL
  12. MAMANYA WIRID
  13. BEBERAPA FIGURAN UNTUK PERAN PARA UNDANGAN

 

PEMBUKA

Para aktor dengan kostum motif taplak meja dan hand prop taplak meja warna-warni dengan berbagai motif, membentuk koreografi gerak. Diiringi alunan musik dari bunyi-bunyian yang diambil dari perangkat sederhana. Misal perangkat rumah tangga, perangkat bengkel, dll. Tarian usai, mereka semua tertidur.

LAMPU BERUBAH

ADEGAN 1

Ruang kamar bersama di sebuah rumah singgah penampungan

anak-anak broken home, pagi hari.

PAKDE KEMPUL    : Woi…woi…bangun..bangun…!! Hobi kok begadang. Lupa ya? Hari ini hari apa?

ANAK-ANAK          : (nada malas, kompak) Mingguuuuu….

WIRID                       : Iya Pakde. Insya Allah hari Minggu.

PAKDE KEMPUL    : We’ik. Weleh, weleh. Kalian ini, setiap ditanya hari ini hari apa, jawabnya selalu hari Minggu lagi, hari Minggu lagi.

SOWER                     : Lha iya toh, Pakde. Bagi kita, semua hari itu serasa lebih indah jika dibilang hari Minggu. Karena biar setiap hari bisa libur, bisa santai, bisa begadang, terus bisa bangun molooooorrrrr…

PAKDE KEMPUL    : (sewot manja) Lha iya toh, Wer. Biar bibirmu semakin ndoweeeerrr. Karena tiap hari ngileeerrr melulu, bikin pulau abstrak di sarung bantal buluk tercintamu itu. Sana, mumpung matahari sedang tersenyum manis, cepat dijemur bantal kamu itu.

SOWER                     : Sebentar, Pakde. Boleh tidak aku minta waktu 10 menit saja ?

PAKDE KEMPUL    :  Mau apa? Pasti mau nambah waktu ngorok 10 menit lagi. Iya kan? Untuk kali ini, permintaanmu tidak Pakde penuhi. Maaf ya, Wer.

SOWER                     : (menggerutu) Yach, Pakde. Ya sudah kalau begitu. Nanti malam aku mau balas dendam, tidur duluan.

PAKDE KEMPUL    : (senyum) Nah, begitu. Tidak baik anak muda kebanyakan tidur. Bakal banyak kehilangan peluang. Kata Mbah Buyutku dulu, kalau kita bangun keduluan ayam berkokok, rejeki kita bakal jauh.

KEMPRUT                : Tapi tidak ada hubungannya dengan kalau kebanyakan kentut kan, Pakde?

JANTHIL                   : Yee…takut ya…mentang-mentang itu angin cueknya tidak bisa direm.

GENTING                 : Eh, tapi bisa jadi lho. Sekali kentut, akan mengurangi suhu badan sekitar 0,5 derajat celcius. Itu berarti, badan kita terasa lemas dalam waktu kurang lebih sekitar 1 menit.

WIRID                       : Ting, Ting. Bikin teori ngawur kok ya kebangeten. Kalau sampai teori ngawurmu itu didengar Engkong Einstein, bisa dirujak kamu.

PAKDE KEMPUL    : Rujak? Ouw, dari pagi tadi Pakde sudah ngidam rujaknya Mbok Cingur pojok. Sepertinya tamu kita dijamu rujak tolet dan rujak cingur saja. Pasti ketagihan.

GENTING                 : Memang ada tamu siapa sih, Pakde? Sepertinya Pakde sumringah sekali. Pasti pacar baru ya?

PAKDE KEMPUL    : Pacar? Pakde belum sempat berpikir untuk pacaran lagi. Takut nanti trauma lagi.

WIRID                       : Subhanallah, Pakde. Tidak baik trauma berkepanjangan. Apa Pakde

tidak ingin hidup bahagia? Punya anak, punya keluarga sakinah mawadah warohmah?

PAKDE KEMPUL    : Wirid, sebenarnya kamu itu ngomong buat Pakde apa buat dirimu sendiri? Apa kamu sendiri tidak rindu sama keluargamu?

WIRID                       : (sedih) Astaghfirullah, Pakde. Kumohon, jangan ungkit-ungkit lagi masalah itu. Kepalaku jadi pening. Kita kan sedang membicarakan Pakde. Kenapa jadi berbelok arah?

PAKDE KEMPUL    : Ok, maaf. Akan tiba masanya, kalian semua pasti akan merasakan rindu pulang, kangen keluarga. Balik lagi ke masalah Pakde, secara hati kecil, keinginan itu pasti ada. Tapi belum untuk saat ini. Karena Pakde sudah cukup merasa bahagia memiliki kalian semua. Kalian inilah keluarga Pakde.

JANTHIL                   : Tapi kita semua kan bandel-bandel, Pakde. Apa Pakde tidak bosan menghadapi keonaran kita?

KEMPRUT                : Eh, enak saja kamu bilang, Thil. Kamu itu yang suka bikin onar. Kalau aku kan onarnya alami. Dalam sehari, tidak mungkin kalian tidak kentut. Coba, kalau kalian tiba-tiba susah kentut? Pasti masalahnya makin runyam. Kemarin aku baca di surat kabar, gara-gara tidak bisa kentut dalam seminggu, akhirnya dirawat di rumah sakit. Makanya, kentut itu anugerah. Jadi wajib dipelihara baik-baik.

ANAK-ANAK          : Prrreeeeettttt….prut tuprut tuprut….preeetttt…

PAKDE KEMPUL    : (tertawa) Sudah, sudah. Tidak usah bertengkar. Justru kenakalan wajar kalian itu, hiburan bagi Pakde. Tanpa kalian, Pakde sepi. Terkadang di kala suntuk, godaan untuk kembali mangkal di jalanan selalu menghantui. Pakde tepis bayangan buruk itu. Pakde munculkan wajah-wajah kacau kalian. Akhirnya Pakde bisa tidur nyenyak.

http://i416.photobucket.com/albums/pp246/marciolimas/Download.gif

CONTRENG SAYA

Dian Tri Lestari

 

[die.jpg]PARA PEMAIN

Guru

Ortu

Nero

Timika

Siswa 1

Siswa 2

Pedagang

Usman

Pembeli

Caleg

Pengawal 1

Pengawal 2

 

Pemain yang tidak boleh memerankan dua/lebih tokoh adalah guru, pedagang, dan caleg.

 

BAGIAN I

 

LAMPU OFF. SETTING RUANG KELAS

MEJA DAN KURSI GURU DI TENGAH PANGGUNG. 4 PASANG MEJA DAN KURSI BERDERET RAPI MENGHADAP MEJA GURU DENGAN POSISI DIAGONAL

LAMPU ON. 2 ORANG SISWA SUDAH DUDUK DI DALAM KELAS. SEORANGNYA DUDUK DI KURSI, SEORANGNYA LAGI DUDUK DI MEJA.

NERO (Masuk dengan sikap angkuh dan anggun. Pandangannya meremehkan orang lain)

My name is Nero

 

TIMIKA MASUK DARI ARAH BELAKANG NERO. TAMPILANNYA TIDAK SEPARLENTE NERO

 

NERO (Memperhatikan fisik Timika dengan sinis dan jijik)

Dandananmu dari kemaren itu-itu terus ?

 

TIMIKA

Ada yang salah ?

 

NERO

Ada yang salah, Ada yang salah, Ada yang salah ? Ya jelas salah dong. Lihat bawaanku. Hp aja 3. Sekolah aja pakai mobil mewah. Sepatu merk Rusia. Mau, mau, mau ?

 

TIMIKA (Diam)

 

NERO (Meninggalkan Timika dan duduk di kursinya)

 

GURU (Masuk dan diikuti Timika. Timika duduk di kursi. Sedangkan guru menuju ke mejanya dengan wajah muram dan tergesa-gesa. Setelah meletakkan semua peralatan mengajar, ia duduk di kursi)

Maaf anak-anak, saya terlambat.

 

NERO

Gak apa-apa, Bu. Kita sendiri baru saja datang.

 

GURU

Baiklah, sekarang kita belajar menulis notulen diskusi

 

SEMUA SISWA GADUH, KECUALI TIMIKA

 

NERO

Aduuuh, Bu. Susah. Belajar lain saja.

 

GURU

Kok kamu yang mengatur saya ?

 

NERO

Bukannya gitu, Bu. Cuma, ngapain belajar notulen, kalo hasil diskusi hanya jadi wacana

 

GURU

Nero ! Memangnya kamu gak mau dapat nilai ? Memangnya kamu gak mau dapat ijazah ?

http://i416.photobucket.com/albums/pp246/marciolimas/Download.gif

ANAK RANTAU

Karya  Dian Tri Lestari

 

http://sastradrama.files.wordpress.com/2010/10/3-diantrilestarifkip-bahasaindonesia.jpg?w=264&h=320DRAMATIC PERSONAE

 

1. AMAR

Seorang anak rantau (lelaki, usia 26 tahun), kritis, berpikir bahwa segala peradaban berkiblat pada kebudayaan Eropa, menganggap bahwa adat Melayu (umumnya Indonesia) adalah adat yang membuat orang Melayu tak bisa maju seperti orang-orang Eropa.

 

2. TOK LAT

Ayah Amar (lelaki, 54 tahun) yang pendiam, kurang ekspresif, berpendirian teguh terhadap bangsa Melayu.

3. NAH

Ibu Amar (perempuan, 50 tahun) yang cerewet, ramah, senang bicara, mudah senang dan mudah pula sedih, mencintai keluarga sehingga tak peduli ideologi mana yang dipakai anak atau suaminya asalkan keluarga utuh seperti semula.

4. KAMELIA

Adik Amar (perempuan, 16 tahun) yang pada akhirnya menentang cara pandang dan ilmu Amar meskipun dia orang yang paling merindukan datangnya Amar ke tanah Melayu, lincah, terbuka pada perbedaan dan kebebasan, namun tetap kukuh pada adat Melayu.

5. WULANDARI

Gadis Melayu (perempuan, 18 tahun), disukai oleh Amar, bertutur lemah lembut, selalu tersenyum, gerak lembut gemulai, dan ramah.

6. PAK NGAH

Saudara Tok Lat yang tetap menyayangi keluarga Tok Lat meski tidak senang atas perubahan sikap dan sifat Amar, lebih banyak diam seperti Tok Lat.

7. MAK LONG

Saudara Tok Lat yang langsung membenci Amar ketika Amar menunjukkan perubahan sikap dan sifat.

8. WAK MINAH

Dukun, ramah, senang menolong tanpa mengharapkan imbalan uang ataupun harga diri.

9. SALIM SELAMAT

Orang kampung bermulut besar dan humoris.

10. LANGAU

Orang kampung, teman Salim Selamat yang masih memiliki akal sehat.

11. UDIN

Orang kampung, teman Salim Selamat yang lugu.

12. JADAM

Orang kampung

13. ASNAH

Orang kampung

14. Siti

Orang kampung

 

BABAK 1

LAMPU ON. PANGGUNG MENGGAMBARKAN SUASANA DI RUANG TAMU. RUANGAN TERSEBUT TERDAPAT BEBERAPA PERABOT SEDERHANA, SEPERTI PERANGKAT KURSI TAMU, TIKAR PANDAN, BANTAL, PERANGKAT SIRIH, KALIGRAFI, DAN FOTO KELUARGA. SEORANG LELAKI TUA YANG DIKENAL DENGAN NAMA TOK LAT SEDANG MENGGULUNG TEMBAKAU DI KERTAS, MEMILIN-MILINNYA, MEMBAKAR UJUNG ROKOK DENGAN API, KEMUDIAN DIHISAP. IA DIAM TENANG SAMBIL MENDENGAR SUARA ORANG MENGAJI DI KAMAR DAN SAYUP-SAYUP KERIUHAN PARA IBU YANG MEMASAK DI DAPUR. IA DUDUK CUKUP LAMA DI POJOK RUANGAN MENGHADAP PINTU (KURSI TAMU).

SUARA KETUKAN PINTU, KEMUDIAN DISUSUL SAPA ‘ASSALAMU’ALAIKUM’.

TOK LAT

Wa’alaikum salam warahmatullahiwabarakatuh…

 

TETAP DIAM DI TEMPATNYA. SALAM KEMBALI TERDENGAR. TOK LAT TETAP MENJAWAB JUGA TETAP TAK BERGERAK MEMBUKA PINTU. KETIKA SALAM YANG KE-3, ISTRI TOK LAT KELUAR.

NAH

Ngape lah tak mau dibukakan pintu orang datang tu? Aku ni tengah besibok di dalam. Dari tadi pagi kau menyirih jak di situ. Tak ade kerje laen ke? Makin anak kau nak datang, makin melarat pemalas kau ni. Macam mane kalo anak kau datang? Bentaaaar…

(Membuka pintu, kemudian terdiam karena kaget melihat anaknya berdiri di ambang pintu).

Amaaaaaaar…!!! Kuuurs…semangat aku, Naaak. Kau dah balek…Tok Lat, anak kau Tok Lat…anak kau…Amaaar…anak Emak. Dah besak anak Emak.

 

MENDADAK SEMUA ORANG BERKELUARAN MENUJU RUANG TAMU. TOK LAT BERDIRI DAN TERPAKU DI TEMPATNYA. NAH MUNCUL DENGAN MEMBAWA ANAKNYA. DISAMBUT DENGAN MERIAH OLEH SANAK KELUARGA DAN TETANGGA. BERBAGAI PERTANYAAN DIAJUKAN KEPADA AMAR YANG HANYA BISA MENJAWAB ALA KADARNYA. KEMUDIAN MATANYA TERPAKU PADA SANG AYAH YANG BERDIRI MEMATUNG DIDEPANNYA. IA MELEPASKAN TAS DAN DATANG MENCIUM PUNGGUNG TANGAN AYAHNYA.

http://i416.photobucket.com/albums/pp246/marciolimas/Download.gif

LEGENDA KIAYI BERUMBUNG

Karya : Agus Suharjoko, S.Sn.

 

http://sastradrama.files.wordpress.com/2010/10/p5020265.jpg?w=157&h=210PARA PETANI PUTUS ASA KARENA LAHAN PERTANIANNYA GERSANG DAN TAK DAPAT DITUMBUHI TANAMAN APAPUN.

 

Petani A :

Bagaimana ini?! Lahan semuanya tandus, gersang dan tak dapat ditumbuhi apapun. Sementara sumur tidak ada lagi airnya.

 

Petani B :

Iya ya… terus bagaimana dengan panen kita. Pasti dimusim ini kita akan gagal panen lagi. Mana kita harus membayar upeti kepada penguasa.

 

Petani 3 :

Ayo kita bekerja lebih giat, siapa tahu kita masih bisa mendapatkan hasil walaupun tidak sesuai dengan harapan kita.

 

Petani 4 :

Iya…. ya…. dan kita pasrah saja dengan keadaan seperti ini.

 

Petani A :

Iya mau bagaimana lagi, penguasa itu memang tidak pernah mau tahu tentang kesulitan kita.

 

Petani B :

Iya yang mereka mau hanyalah, upeti dan upeti dari kita.

 

Kyai Barumbung mendengarkan keluhan penduduk, akhirnya dengan meminta pertolongan Yang Maha Kuasa didapatkannya sumber air.

 

Kyai Barumbung :

Assalamualaikum…

 

Semuanya :

Walaikum salam

 

Kyai Barumbung :

Sedang apa kalian ?! Kok tidak bekerja. Apa yang sedang kalian alami dengan tanaman kalian ?!

 

Petani A :

Ini pak… coba bapak lihat… lahan tandus…tanaman tak lagi bisa tumbuh dengan subur dan sementara air tak lagi dapat kita temukan…

 

Petani B :

Lalu bagaimana kami nanti bisa panen, sementara penguasa maunya hanya meminta dan meminta upeti dari kami….

 

Petani 3 – 4 :

Kami sudah tidak kuat lagi pak menanggung beban hidup dan penderitaan ini. Tapi bagaimana lagi? Kami hanyalah rakyat kecil dan menggantungkan hidup ini dari hasil bercocok tanam kami, lalu apa jadinya kalau begini…

 

Lalu para petani pulang, sementara Kyai Berumbung memohon petunjuk pada Allah SWT. Dan terjadilah ke ajaiban, Kyai Barumbung menemukan sumber air.

 

Kyai Barumbung :

Alhamdulillah…ternyata Allah SWT. memberikan apa yang diharapkan oleh penduduk…

 

Petani 5 :

Assalamualaikum ….

 

Kyai Barumbung :

Walaikumsalam… ada apa ini ?!

 

Petani 5 :

Alhamdulillah Kyai telah memberi kami sumber air untuk penduduk desa di sini, terima kasih kyai…

 

Kyai Berumbung :

Jangan berterima kasih kepada saya, bersyukurlah kepada Allah SWT… Assalamualaikum..

 

Petani 5 :

Walaikumsalam…

Weh…para penduduk semua, ini ada air…

 

Para petani saling berucap syukur dan sumber mata air itu diberi nama : SUMBER BERUMBUNG

http://i416.photobucket.com/albums/pp246/marciolimas/Download.gif

MATAHARI 1/2 MATI

KARYA A. REGO SUBAGYO

 

http://sastradrama.files.wordpress.com/2010/10/arsilalang.jpg?w=193&h=320DRAMATIC PERSONAE

 

MBOK Ibu dari lima anak
KARDI anak pertama
PARTO anak kedua
WARTI anak ketiga
SUWAJI anak keempat
NARKO anak kelima
HARDJO tetangga

 

DI SEBUAH DESA YANG SANGAT TERPENCIL DAN TERPINGGIRKAN DARI DERU DAN HIRUK PIKUKNYA PEMBANGUNAN, SEPERTI TERASING. ADA KELUARGA SEDERHANA, KELUARGA PETANI SAHAJA, TIDAK PERNAH NEKO-NEKO. TENTRAM, DAMAI POKOKNYA NYAMAN. TETAPI SUATU KETIKA MUNCUL PERMASALAHAN-PERMASALAHAN DI KELUARGA TERSEBUT YANG MENGAKIBATKAN HUBUNGAN ANTAR ANGGOTA KELUARGA MENJADI TIDAK HARMONIS LAGI.
BABAK I
DI SERAMBI RUMAH, ALUNAN MUSIK GAMBARAN PEDESAAN LEMBUT MENYAPA. LAMPU MULAI PADAM. PARTO BARU PULANG DARI SAWAH
PARTO

Kok masih sepi, pada kemana ya? Apa belum pulang?

 

(seperti bertanya pada diri sendiri).

 

Sudah seminggu lebih aku sendirian menggarap sawah, akhir-akhir ini Kang Kardi jadi pemalas, pekerjaannya hanya termenung, melmun, merenung, bahkan tidak pernah bisa diajak bicara apalagi bercengkeraman. Kang Kardi selalu membisu, tak pernah mau ngomong, tak pernah mau bicara, tak pernah berkata-kata, bisu, seakan kelu dalam otaknya

 

(terdiam).

 

Apakah selamanya akan seperti ini bisu dan beku, mati. Aku sendiri semakin bingung, panenan yang jeblok, sedang harga untuk obat selangit apalagi untuk pupuk sudah tak masuk di akal

 

DIAM KELUARKAN BUNGKUSAN DARI KANTONG, MELINTING TEMBAKAU LALU MENYULUTNYA. NARKO PULANG SEKOLAH, TERGOPOH-GOPOH MENUTUPI MUKANYA
PARTO

Hei Ko, Narko kesini!

NARKO

Ya, Kang

PARTO

Kenapa wajahmu?

NARKO

E, eh tidak apa-apa Kang. Cuma aku tadi terjatuh

PARTO

Terjatuh, dimana?

NARKO

Di dekat pasar, Kang

PARTO

Kok bisa, coba kulihat!

NARKO

Iya Kang

PARTO

Tapi kalau seperti ini, terjatuh ya tidak mungkin

NARKO

Iya Kang

 

SPONTAN

PARTO

Apa? Iya. Jadi kamu tidak jatuh, tapi dipukuli orang begitu!

NARKO

Tidak kok Kang. Tidak apa-apa

PARTO

Tidak, tidak apa-apa! Tidak apa-apa, kok bisa bengep kayak abis dipukuli. Kamu berantem, ya?

NARKO

Eendak kok Kang

PARTO

Endak apa enggak!

NARKO

Enggak

PARTO

Endak apa enggak!

NARKO

Enggak

PARTO

Endak apa enggak!

NARKO

Enggak

PARTO

Endak apa enggak!

NARKO

Tidak kok, tidak, tapi….

PARTO

Tapi, apa?

NARKO

Tidak apa-apa

PARTO

Sudahlah, jangan bohong, kamu kan sudah diajari tentang kejujuran, dan kamu tahu pasti apa, arti, dan maknanya. Jujur saja, tadi berantem kan?

NARKO

Ya Kang habis aku tidak tahan. Aku diolok-olok, diejek, aku dibilang adiknya orang gila, adiknya orang sinting, edan. Ya, langsung tak kasih ini

 

 

(menunjukkan kepalan tangan).

 

Terus aku dikeroyok lima orang, permainannya jadi tak imbang, ya aku kalah Kang.

http://i416.photobucket.com/albums/pp246/marciolimas/Download.gif